Jalan-Jalan Bawa Bocil ke Tahura

Jadi orang tua emang harus mikir terus, salah satunya ya ini, mikirin aktivitas apalagi yang mau dikasih ke anak, supaya anak gak bosan di rumah terus. Main di playground udah keseringan, kali ini saya ingin mengajak si non ke tempat yang dekat dengan alam. Selain untuk anak, saya juga merasa butuh refreshing menghirup udara segar. Jadilah, kami (saya dan suami) memutuskan untuk pergi ke Tahura (Taman Hutan Raya) yang beralamat di Ir. H. Djuanda. Banyak destinasi yang menarik di Tahura, namun yang jadi incaran kami adalah penangkaran rusanya. Alasannya ya sederhana, karena si non super excited kalau udah lihat binatang.

Kami berangkat dari rumah pada pukul 06.30, tadinya mau lebih pagi lagi, supaya dapat udara yang super fresh dan menghindari kerumunan orang. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, karena gak macet juga. Selama di perjalanan, saya nyuapin sarapan si non dan suami, supaya sesampainya di sana, tenaga kita sudah full dan siap untuk jalan jauh. Sesampainya di sana, sudah banyak gerombolan orang, ada pasangan-pasangan yang mungkin mau olahraga bareng dan banyak rombongan ibu bapak yang berkumpul di area parkir, sepertinya menunggu rekannya yang lain.

Tiket masuknya hanya 10.000 saja, si non belum dihitung jadi saya cukup membayar 20.000 dan untuk tiket mobil sebesar 12.000. Saya sempat tanya soal tempat penangkaran rusa, Bapak penjual tiketnya bilang kalau lokasinya bisa ditempuh sekitar 30 menit. Wah, kalau 30 menit doang mah dekat lah. Cincay.

Tapi begitu saya lihat peta yang dipajang, kok agak beda ya. Untuk sampai ke penangkanan rusa, harus melewati goa jepang, goa belanda, dan dari situ pun masih harus menempuh sekitar 1 kiloan lagi. Tapi, karena pagi-pagi masih semangat dan optimis, hajar aja lah! Saya gak bawa tas, suami bawa ransel yang isinyapun hanya air minum dan baju ganti si non, jadi gak ada beban untuk jalan jauh. Jalan di Tahura terasa sangat menyenangkan pagi itu, udaranya sangat segar, dan waktu itu juga belum ramai. Bahkan dalam jangkauan 100 meter pun saya gak lihat ada orang lain. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Ada deretan warung-warung sepanjang jalan, jadi sebetulnya gak perlu khawatir kalau lelah, lapar, atau haus di perjalanan, banyak tempat untuk istirahat. Kami melewati Goa Jepang dan melanjutkan perjalanan, gak tertarik buat masuk karena saya parnoan kalau bawa anak. Kebanyakan nonton setan-setanan bikin parno gak masuk akal emang. Kami juga melewati tebing yang sering dipakai orang untuk foto-foto, dan di sana jugalah kami melihat banyak monyet-monyet imut yang bergelantungan di pohon. Wah, itu adalah pemandangan yang menyenangkan buat si non. Dia seneng banget liat monyet sementara saya degdegan karena sepengetahuan saya, mereka-mereka ini usil dan suka ambil barang bawaan kita. Tapi, untungnya aman-aman aja.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Setelah itu, lanjut lagi. Kami jalan pelan ketika melewati sebuah bangunan yang unik dengan bendera Belanda terbentang di depannya. Aneka mainan anak terpajang di atas meja depan cafe tersebut, lalu juga ada buku menunya. Holland Spot, namanya. Wah, lucu. Tapi, karena saya masih fokus ke tujuan awal, yaitu penangkaran rusa, saya tetap jalan meninggalkan cafe bernama Holland Spot itu.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Setelah melewati Goa Belanda, saya udah mulai sedikit ngos-ngosan, karena gak cuma jalan, kadang saya dan si non berlarian kejar-kejaran yang lumayan menguras energi. Akhirnya, kami istirahat dulu di warung sambil menikmati kelapa muda dan jagung bakar. Harga kelapa muda nya 15ribu sedangkan jagung bakarnya 20ribu. Mahal, tapi ya namanya juga tempat wisata. Lucunya, waktu saya sedang menikmati kelapa muda dan menyimpan jagung bakarnya di meja, seekor monyet besar lompat ke meja, mengambil jagung, dan pergi melompat ke pohon. Kaget sih iya, tapi gak kesel soalnya si non jadi bisa liat adegan yang langka itu.

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Matahari udah mulai naik, udah mulai hangat, kami langsung bergegas. Tadinya, kami mau melanjutkan perjalanan, karena sudah berkali-kali si non bilang ingin lihat rusa. Tapi, begitu saya lihat petunjuk arah yang menunjukkan kalau lokasi yang kami tuju masih berjarak 1,5 km lagi, saya jadi ragu mau lanjut atau tidak. Perjalanan kami selama dan sejauh tadi ternyata belum sampai setengah perjalanannya. Saya tanya si non, dia bilang tetap mau lanjut, bilang gak capek. Tapi, dia kan gak tau 1,5 km itu sejauh apa, saya langsung mengurungkan niat dan bilang sama suami untuk putar balik aja. Lihat rusanya nanti aja di kebun binatang atau di Ciwidey. Haha.

Gak jauh dari kita putar balik, kami melwati tempat tadi, Holland Spot. Karena penasaran, akhirnya kami mampir dan memesan cemilan sambil melihat-lihat mainan yang berjejeran di atas meja. Ternyata mainan itu boleh dipinjam selama kita makan di sana, si non senang sekali, dia bolak balik pilih mainan yang ia sukai. Kakak-kakak pelayannya super ramah dan baik sekali. Kalau kita pesan pancake, kita boleh melihat prosesnya atau bahkan boleh masak sendiri. Si non ditawari, tapi tentu saja dia gak mau haha. Cuma, dengan menonton kakaknya memasak pancake dan menghias toppingnya saja, dia sudah terhibur. Saya pikir,cafe-cafe di tempat wisata begini cuma menonjol di harga aja, untuk rasa nomor sekian. Ternyata saya salah, bala-balanya harganya 25ribu tapi isinya 8 dan ukurannya besar-besar, dan yang terpenting rasanya enak! Ya bala-bala rumahan lah, dilengkapi dengan cengek dan saus kacang. Pancakenya seharga 35ribu, dapat 6 depan ukuran mini, teksturnya lembut, toppingnya banyak, dan rasanya enak. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Karena tempatnya enak, saya lumayan lama berdiam di sana. Apalagi di dalamnya juga ada perpustakaan kecil. Si non meminjam majalah Bobo, lalu kemudian Kakak pelayan yang melihat langsung menghampiri kami dan meminjamkan si non crayon untuk mewarnai. Baik banget! Makin anteng aja si non di sana, sampai sulit diajak pulang. Tapi, karena hari sudah semakin siang, dan saya mulai mengantuk karena angin sepoi-sepoi, kami memutuskan untuk pulang. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Meskipun gak jadi lihat rusa, tapi banyak hal lain yang jadi pengalaman buat si non, contohnya berjalan di jembatan, melihat monyet mengambil jagung, melihat binatang lain sepanjang perjalanan seperti cacing, laba-laba, juga kucing-kucing yang berkeliaran di sana, serta bunga-bunga cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yang terpenting, ia tau kalau alam semesta ini luas dan indah sekali, dan semuanya ini ada pemiliknya, Yang Maha Segalanya. 

Tahura Taman Hutan Raya Bandung

Nyobain Lash Lift di Rumah dengan Natulash, Gak Kecewa!

Saya ingat betul deh, waktu saya kecil, bulu mata tuh panjang dan lentik, kayak boneka. Makin gede, kok makin gak keliatan, entah rontok atau emang muka saya yang ngegedein sehingga si bulu mata jadi terkesan menciut. Rasanya ingin punya bulu mata yang lentik dan panjang lagi, seperti dulu. Mata terlihat lebih bulat dan cantik. Sebenarnya memang ada beberapa solusi untuk permasalahan bulu mata yang kurang bergairah ini. Solusi pertama, jelas maskara. Frankly I'm not a big fan of it. Dari mulai pengaplikasiannya, hasil, dan pembersihannya, gak saya suka. Karena saya jarang ngaplikasiin maskara, jadi tragedi maskara nyolok mata tuh dah pasti terjadi tiap saya pakai maskara, dah gitu, saya gak terlalu suka pakai maskara karena ketika saya pakai kacamata, si bulu mata terlalu panjang dan jadi menggores lensa kaca mata saya (kebayang kan?). Yang terlahir, pembersihannya yang butuh effort luar biasa. Belum lagi, kalau ngebersihinnya gak bener, mata langsung mendadak jadi kayak Susana. Makanya, saya jarang banget beli maskara kecuali kalau emang lagi diskon gede-gedean aja.

Solusi yang kedua adalah dengan bulu mata palsu. Saya inginnya punya bulu mata yang lentik dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Gak mungkin rasanya kan ya kalau pakai bulu mata palsu, saya sedang gak ingin nambah keribetan dalam hidup. Lalu, solusi lainnya adalah extension bulu mata, yang jelas gak akan dibolehin sama suami. Lagian, saya juga ga tertarik karena sepertinya terlihat kotor dan kurang natural, apalagi ketika bulu matanya dah mulai rontok-rontok, jadi carang-carang gitu, jelek. Nah, yang terakhir adalah yang udah lumayan lama saya pengenin, tapi gak pernah sempat, yaitu lash lift. Lash lift sendiri adalah prosedur semi permanen yang membuat tampilan bulu mata terkesan lebih penuh, panjang, dan lentik. Tren lash lift ini juga udah dari tahun tahun kemarin, tapi waktu itu saya agak males kalau harus ke salon dan ninggalin anak di rumah. Tapi, baru banget sebulanan yang lalu, saya baru tau dari sepupu kalau ternyata lash lift itu bisa dilakuin sendiri di rumah dan harganya pun supeerr dupeeer murah!


Ada banyak brand yang mengeluarkan produk lash lift ini. Yang saya pakai di sini adalah rekomendasi sepupu saya, nama produknya adalah Natulash. 1 kit ini harganya gak mahal, cuma 119.000, itupun bisa dipakai berkali-kali. Hemat banget jika dibandingkan dengan lash lift di salon, bisa 100 sampai 200ribu untuk sekali treatment.

Dalam 1 kit ini terdapat 2 bantalan silikon, 1 lem bulu mata, lash bud, perm lotion, setting lotion, nourish oil, dan lash bud. Petunjuk penggunaannya dituliskan pada kemasannya, tapi sayang punya saya hilang, jadi kurang lebih urutannya seperti ini.


Cara pengaplikasiannya menurut saya sangat mudah, jika sudah melewati tahap awal, yaitu menempelkan bulu mata ke silikonnya. Saya gak ngitung deh berapa kali istigfar karena bolak balik harus menahan bulu mata untuk tetap menempel, susah bangeeeeetttt. Sampai akhir pengaplikasianpun saya masih harus menahan-nahan bulu mata supaya tetap menempel. Dan karena udah terlanjur capek dan gak sabar, saya biarkan saja seadanya, dan ternyata hasilnya... menyedihkan banget, gak signifikan.


Karena gemas dan penasaran, akhirnya seminggu yang lalu saya coba lagi. Kali ini, saya lebih sabar dan telaten. Gak akan lanjut ke step berikutnya kalau bulu mata saya belum menempel sempurna. Dan saya juga betul-betul memberikan waktu tiap selesai mengaplikasian lotion, gak terburu-buru maju ke step  berikutnya. Dan hasilnya? Kalian bisa lihat hasilnya di gambar yang saya sematkan ya.


Kelihatannya sih oke ya, tapi kalau dilihat lebih detail, saya mikir ini kayaknya terlalu tegak banget. Karena bulu mata saya panjang, jadi bulunya sampai nyentuk kelopak mata saya, agak kaget juga sih. Mungkin ada sedikit kesalahan peletakan bantalan silikon, sehingga hasilnya bukan seperti lentik, tapi lebih seperti bulu mata yang direbonding ke atas. Tapi, gak masalah, tetap oke sih. Apalagi, kata sepupu saya, dari waktu ke waktu bulu matanyajuga akan turun kembali, nanti juga akan lentik secara alami. 


Menurut saya, produk ini layak banget dicoba untuk kalian yang menginginkan bulu mata lentik tanpa harus pakai penjepit. Hasilnya sih gak seperti pakai maskara, kecuali kalau bulu matamu tebal dan panjang.Harganya cuma 119.000, itupun bisa dipakai sampai 4 atau 5x buat saya, jadi irit banget. Tiap pemakaian bisa tahan hingga sebulan sampai 2 bulan Tipsnya supaya dapat hasil yang oke cuma satu sih, sabar, sabar, dan sabar! Jadi anggap aja ini treatment untuk menguji kesabaran juga. Selamat mencoba dan lemme know ya hasilnya!