5 Love Language, Belajar Memahami Bahasa Cinta Pasangan

Saya ingat betul, betapa dulu saya menyukai hal-hal yang romantis dalam segala hal, the real hopeless romantic. Maka, ketika saya punya pacar seorang penikmat puisi, yang juga penulis, rasanya menyenangkan. Mendapat surat dengan bait-bait cinta yang indah adalah definisi jatuh cinta yang sempurna. Tadinya saya pikir, kata-kata romantis ini adalah satu-satunya cara mengekspresikan cinta, tapi ternyata tidak seperti itu.
 
Pada akhirnya, saya menikah dengan suami. Selama pendekatan, saya sudah bisa menilai kalau laki-laki ini bukan laki-laki yang terbiasa dengan kata-kata manis. Gak bisa dibilang dingin, tapi jelas bukan seorang yang banyak berkata-kata. Ekspresinya gak mudah ditebak, kadang saya bingung, kapan dia marah, sedih, dan bahagia. Semuanya sama, seperti ekspresi Kristen Stewart waktu main film Twilight. Kadang, kalau saya sedang kesal, saya sebut ia tumpul emosi. Tapi, meskipun begitu, entah kenapa, saya tetap merasa diberikan cinta yang berlimpah olehnya. Mulai dari sinilah, akhirnya saya paham bahwasanya cinta itu dapat dikomunikasikan dalam bentuk yang berbeda-beda. Inilah yang disebut dengan bahasa cinta (love language).


Basically, love language ini adalah bahasa cinta (ya itu mah jelas dong). Gak, gak, jadi intinya love language ini merupakan bentuk "komunikasi" antar pasangan. Komunikasi di sini, gak hanya melulu soal kata-kata, ucapan cinta, puisi, dan yang lainnya. "What makes one person feel loved emotionally is not always the thing that makes another person feel loved emotionally", kutipan tersebut adalah dasar pemikiran Gary Chapman, bahwasanya tiap orang memiliki love language yang berbeda. Jadi, love language yang dijabarkan oleh Gary Chapman ini terdiri dari 5 jenis, yaitu Words of Affirmation, Act of Service, Physical Touch, Quality Time, dan Receiving Gift. Tujuan dari love language ini adalah untuk membuat love tank kita dan pasangan selalu penuh. Tentu saja, dengan love tank yang penuh, hubungan kita dan pasangan juga akan terasa lebih memuaskan.


Tiap orang pasti memiliki kelima bahasa cinta tersebut. Akan tetapi, pasti ada salah satu yang  primer, yang utama, yang paling mendominasi, yang menjadi tolak ukur bagi dirinya saat menyimpulkan perasaan seseorang padanya. Saya akan menjelaskan sedikit mengenai perbedaan antara tiap bahasa, mudah-mudahan mudah dimengerti ya, karena buku ini saya baca sudah beberapa tahun yang lalu. Artikel ini juga sebetulnya sudah ada di draft dari beberapa bulan yang lalu tapi gak pernah terselesaikan. Thank God, kolaborasi Bandung Hijab Blogger bulan Agustus mengangkat tema ini, jadi saya punya penyemangat untuk menyelesaikannya.

1. Words of Affirmation

Ini yang tadi saya bilang di awal, tentang betapa dahsyatnya efek kata-kata. "Kamu cantik banget", "rambut baru kamu bikin lebih fresh", "aku suka ide kamu, pintar!" mungkin terdengar cringe bagi sebagian orang. Tapi, bagi sebagian orang, mendapatkan apresiasi dan validasi atas pencapaian diri, rasanya sangat menyenangkan. 

WOA ini juga gak melulu tentang isi dari ucapan saja, tapi juga tentang cara penyampaiannya. Misalnya, suami saya memang jarang memuji dan berkata-kata, tapi sekali dia melakukannya, nada dan intonasinya lembut, adem rasanya.


2. Quality Time

Beberapa orang kadang salah mengartikan mengenai quality time. Hanya dengan berdua bersama dengan pasangan di waktu dan tempat yang sama, gak bisa disebut sebagai quality time. Quality time di sini adalah tentang lebih banyak mendengar satu sama lain, menjaga eye contact saat berbicara, tidak melakukan hal lain saat bersama dengan pasangan. 

Anyway, ini adalah fakta menarik, bahwa rata-rata setiap orang hanya bertahan selama 17 detik sebelum akhirnya menginterupsi lawan bicaranya. Yes as I said before, we need more listening.

3. Receiving Gift

Memberikan hadiah adalah bukan tentang seberapa besar rupiah yang kita keluarkan untuk membelikan pasangan sebuah benda, tapi ini semacam simbol bahwa kita sedang memikirkan dia saat melihat benda tersebut. Bagi seseorang yang primary love languagenya adalah menerima hadiah, harga dari hadiahnya sendiri bukan jadi masalah besar, kecuali kalau memang terlalu gak wajar jika dibandingkan dengan kemampuan pasangannya. Misalnya, kamu bekerja sebagai CEO top company, tapi saat pacarmu ulang tahun, kamu kasih dia jepit heartwarmer, ya gimana ya.

4. Act Of Service

Ini mungkin sering terjadi di kehidupan rumah tangga. Biasanya akan ada konflik istri yang komplain kalau suaminya gak ngapa-ngapain, tapi suaminya merasa kalau seharian dia merasa sudah melakukan berbagai macam hal.

Kesalahan yang seringkali terjadi adalah kita kerapkali melakukan banyak hal, yang kita kira demi kepentingan pasangan, padahal menurut pasangan, itu bukan hal yang penting dan mendesak. Akhirnya, pasangan kita gak menerima bentuk aksi kita sebagai wujud cinta.  

Di samping itu, meminta tolong dan menyuruh adalah dua hal yang berbeda dalam hal ini. Semua pasti tau, kita lebih senang dimintai tolong, dibanding disuruh-suruh. 

5. Physical Touch

Menurut saya, sentuhan fisik ini akan sangat mudah disalah artikan. Love language ini bisa mempererat atau malah menghancurkan hubungan. Oleh karenanya, consent adalah hal pertama yang perlu dipahami. Jangan pernah berpikiran bahwa sentuhan fisik yang kamu sukai, juga disukai oleh pasanganmu. Di sinilah pentingnya komunikasi verbal, sampaikan satu sama lain, apa yang disukai dan tidak disukai. 

Saya jadi ingat pertama kali suami saya menunjukkan cintanya melalui sentuhan fisik. Kala itu, kami berdua berjalan di pinggir jalan, melewati gerombolan laki-laki yang berjalan berlawanan arah dengan kami. Seketika itu, Si Mas langsung menukar posisinya sambil menggandeng tangan saya, dia menghalangi saya berdempetan dengan gerombolan itu. That was sweet, dan saya sering sampaikan juga pada si Mas, "thank you for the love", yang dijawab dengan gumaman "hmmmm.." seperti biasa. :))

Beberapa orang mungkin masih bingung dengan primary love language mereka. Bahkan terkadang saat mengikuti tesnya, hasilnya setara, gak ada yang menonjol. Gary Chapman juga mendapatkan pertanyaan-pertanyaan serupa dari pembacanya. Ada 3 hal yang beliau ungkapkan tentang cara mengetahui Bahasa Cinta utama kita, yaitu :

1. Perhatikan bagaimana caramu mengekspresikan cinta kepada orang lain. Kalau kamu seringkali memuji orang lain, menyemangatinya dengan kata-kata penuh cinta, maka Words of Affirmation adalah love language mu. Seperti yang berlaku pada saya dan si Mas. Mas seringkali menunjukkan cintanya melalui sentuhan fisik karena pada dasarnya, memang itu pula yang ia sukai.

2. Perhatikan apa yang sering kamu keluhkan pada pasangan, misalnya kamu seringkali mengeluh kalau kalian jarang menghabiskan waktu bersama, itu adalah indikasi bahwa love languagemu adalah Quality time (kalau kamu gak ingat apa yang sering kamu keluhkan, coba tanya pasanganmu. Biasanya mereka lebih ingat :p)

3. Perhatikan apa yang sering kamu minta pada pasangan. Seperti contoh sebelumnya, jika love language mu adalah Quality Time maka kemungkinan besar kamu akan sering meminta hal-hal yang berkaitan dengan menghabiskan waktu bersama-sama, misalnya "Gimana kalau kita liburan akhir minggu ini?"


Dari kelima love language itu, saya langsung bisa memahami apa primary love language saya dan si Mas. Saya, yang tadinya words of affirmation, kini entah kenapa lebih suka dengan physical touch. Sepertinya, ini karena pengaruh suami yang primary love languagenya physical touch juga. 

Memahami love language pasangan ini hukumnya wajib, menurut saya. Kita akan lebih paham bagaimana cara memperlakukan pasangan, sesuai dengan love languagenya. Banyak sekali orang merasa sudah mencintai pasangannya sedemikian rupa, tapi merasa kalau pasangannya gak mengapresiasinya. Ya gimana, orang yang love languagenya act of service lalu dikasih words of affirmation, yaaa gak masuk, yang ada dongkol "talk less, do more!" halam hati. Namanya juga bahasa, ibaratnya saya yang terbiasa berbahasa sunda, diajak ngomong Inggris, yes little little I can lah..

2 comments

  1. Setuju banget, dgn paham love language kita sama pasangan kita jd lebih bisa saling ngerti yah teh.

    ReplyDelete
  2. Wah menarik yah teh ternyata love language kita bisa dipengaruhi sama pasangan juga

    ReplyDelete