Siapa Bilang Bumil Gak Boleh Maskeran? Intip Masker Favoritku Selama Hamil!

by - September 15, 2019


Lagi-lagi seputar perawatan kulit selama hamil. Mudah-mudahan gak pada bosan ya. Alasan saya bolak balik menulis topik seputar ini adalah karena saya sendiri mengalaminya. Kecemasan-kecemasan melakukan perawatan kulit selama hamil, tapi juga gak bisa kalau hanya mendiamkan kulit yang kusam dan kucel karena kurang perawatan ini. Seperti yang saya pernah bilang, bahwa saya merasa kulit saya super kusam saat memasuki trimester kedua. Saya masih bisa bertahan jika hanya sekedar kusam, tapi kalau sudah masalah jerawat.. hmm.. bawaannya emosi terus. Mengatasi jerawat itu selalu tricky. Salah-salah mengobati, bisa jadi malah menimbulkan lebih banyak jerawat. Akhirnya, setelah memasuki trimester kedua, saya mulai agak rajin melakukan perawatan wajah di rumah, meskipun hanya sekedar maskeran. 

Kalian, para bumil pasti sudah banyak browsing juga mengenai ini. Masker untuk bumil yang aman apaan sih? Dan pastinya jawabannya kebanyakan adalah masker-masker dari bahan alami yang dapat dengan mudah ditemukan di dalam kulkas atau dapur. Sebutlah madu, masker andalan sejuta umat yang sayangnya gak pernah cocok di saya. Memang betul saya pernah berbagi resep tentang masker madu dan brown sugar yang jadi andalan saya. Tapi, penggunaan madu tok, tanpa campuran lain, hanya membuat kulit saya terasa gatal. Jadi, ingat ya ibu-ibu, gak semua bahan alami akan cocok di kulit kita. Bahkan, beberapa pakar bilang justru penggunaan bahan-bahan alami sebagai perawatan kecantikan kurang baik untuk kulit-kulit yang sensitif dibanding produk kecantikan yang dijual di pasaran. 

Masker Yang Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Bahan alami lainnya yang kerap kali dijadikan masker adalah lidah buaya. Lidah buaya memiliki efek soothing yang luar biasa. Tapi sayangnya, bahan ini masih menuai pro kontra jika digunakan untuk ibu hamil. Lidah buaya bisa menurunkan kadar glukosa darah yang berpotensi menyebabkan bahaya bagi ibu dan bayinya. Setiap produk pangan, khususnya pencahar yang mengandung ekstrak aloe vera dapat mengurangi tingkat elektrolit sehingga gak aman untuk dikonsumsi selama kehamilan. Dari informasi tersebut, ada beberapa pendapat. Beberapa mengatakan gak masalah menggunakannya selama gak ditelan, tapi beberapa juga lebih memilih mencari aman dan menghindari penggunaan dalam bentuk apapun. 

Masker Yang Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui 

Selain madu dan aloe vera, masih banyak jajaran bahan alami lain yang sering digunakan oleh ibu hamil. Sebutlah kopi, teh, susu, yoghurt, kunyit, dan jejeran bahan dapur lainnya. Tapi, di sini saya mau sharing 2 masker yang gak diambil dari dapur ataupun kulkas, tapi harganya tetap terjangkau, dan sangat aman digunakan untuk ibu hamil. 

Apakah itu?

1. Raeccabeauty 100% Organic Face Mask

Masker ini saya temukan di Instagram kala saya sedang mencari masker-masker organik. Ada cukup banyak merk dan kebanyakan merk indie yang masih asing terdengar, dan entah kenapa saat itu saya tertarik dengan Raeccabeauty ini. Ada berbagai varian masker yang dijual, disesuaikan dengan fungsinya. Misalnya varian milk untuk kulit normal, greentea untuk kulit berjerawat-berminyak, oatmeal untuk kulit normal-kering, dan beetroot untuk kulit normal-berminyak. Bentuk dari masker ini adalah bubuk yang harus diseduh, karena dari berbagai info yang saya dapat, masker jenis ini lebih aman dibandingkan sheet mask ataupun masker-masker yang modelnya basah. Masker ini termasuk terjangkau, harganya ganya 7.000 untuk 20 gram, yang biasanya bisa saya pakai sampai 5x pemakaian.

Masker Yang Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Meskipun variannya banyak, kandungan dari tiap masker ini nyaris sama. Semuanya sama-sama mengandung clay, aloevera gel, olive, tea tree hydrosol. Sesederhana itu saja. Cara penggunaannya pun seperti masker pada umumnya, yaitu :
  1. Pastikan wajah sudah bersih sebelum pemakaian masker
  2. Ambil 1(satu) sendok teh Raecabeauty face mask
  3. Campurkan dengan 1 sendok teh air mineral/ fresh milk/ madu
  4. Disesuaikan saja, lalu aduk hingga rata
  5. Aplikasi ke wajah secara merata
  6. Tunggu 10-15 menit
  7. Bilas wajah dengan air biasa
  8. Gunakan setiap malam sebelum tidur, dua hari sekali
Masker Yang Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui 

Hasil yang saya dapatkan dari penggunaan masker ini memang gak signifikan, bahkan saya merasa gak ada perubahan apapun kecuali tekstur kulit yang lebih halus. Tapi, buat saya, itu masih lebih baik dibanding gak ada perubahan sama sekali dan membiarkan kulit saya buluk. Seenggaknya saya masih bertanggung jawab terhadap kecantikan kulit wajah meskipun saya sedang hamil. Oh ya, sebetulnya banyak merk indie yang mengeluarkan masker organik seperi Raeccabeauty ini. Jadi, saya sempat berniat mencoba merk lain kalau masker ini sudah habis. Siapa tau ada yang lebih cocok dengan kulit saya yang agak rewel. Tapi, sebelum saya mencoba merk lain, Ibu membawa masker andalannya ketika muda, yang ternyata bekerja dengan sangat baik di kulit wajah saya. Apa coba? Yuk, intip poin selanjutnya!

2. Bedak Saripohatji/ Bedak Dingin


Coba tunjuk tangan, di sini siapa yang gak familiar dengan produk ini? Kalau masih ada yang ngacung, sayang sekali ya kamu melewatkan salah satu benda ajaib yang ada di muka bumi ini. Saripohatji, atau orang biasa menyebutnya bedak dingin, adalah masker yang sudah beredar dari zaman dulu, dari tahun 1927. Gila kan lama banget? Bahkan saat itu Indonesia belum merdeka. Saripohatji yang merupakan asli Ciamis ini dibuat oleh S. Marijah. Meskipun sudah beredar lama, sepengetahuan saya, kemasannya gak pernah berubah. Hanya dibungkus kertasputih dengan print tulisan jadul berwarna merah.

Masker Yang Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Dulu saya pernah pakai saripohatji ini, mungkin saat saya SMP. Tapi karena saat itu saya gak punya banyak masalah kulit, jadi saya gak begitu merasakan perbedaan apapun. Nah, baru kemarin saya bernostalgia, mencoba kembali saripohatji ini atas saran Ibu yang juga kasihan dengan saya yang terus menerus mengeluh soal muka kusam dan berjerawat.

Saripohatji ini adalah tipe masker yang juga harus diseduh. Namun bedanya dengan masker bubuk pada umumnya, bentuknya seperti tablet-tablet lonjong. Saya gak menghitung ada berapa tablet dalam 1 bungkus, yang jelas isinya 20 gram, dan harganya? Hanya 3.000 saja! Sekali saya maskeran, saya hanya menghabiskan 3 tablet, itupun sudah termasuk masker leher. Menurut informasi yang ditulis pada kertas kemasannya, saripohatji ini banyak manfaatnya, gak cuma untuk jerawat. Nih saya tuliskan informasi yang tertulis pada kertas pembungkusnya :

Masker Yang Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui
 
Bedak saripohatji adalah suatu obat paras muka yang ajaib sekali bagi menyembuhkan segala penyakit kulit muka. Bedak saripohatji atau bedak yang aneh mustajab dan mengherankan khasiatnya. Aturan pakainya (kalau digunakan obat) :
  
Ambil 2-3 pil bedak pakai air, jangan terlalu encer, sebelum tidur malam boleh pakai seperti param setelah 4-5 menit lamanya boleh gosok pakai tangan sampai itu bedak bergerentelan seperti daki (keringat kering)

Tetapi jangan kaget kalau bangun tidur pagi-pagi mata terasa tidak sehat banyak keluar kotoran dan mata seperti yang berpenyakitan. Menandakan itulah yang menjadikan penyakit kulit muka, seperti beruntusan ketuwuhan, panu, bekas kuris, jerawat, dll. 

Kejadian begitu tidak selamanya tetap, hanya 2-3 hari saja, seterusnya memakai bedak seperti biasa akan terhindar dari segala penyakit kulit muka. Kemudian paras menjadi bersih, bersinar, dan bersahaja. Begitulah keanehan dan kemustajaban Bedak Saripohatji, beribu-ribu orang yang telah tertolong oleh khasiatnya Bedak Saripohatji dan sanggup menghilangkan segala penyakit kulit. 
 
Baca informasi di atas bikin saya senyum-senyum sendiri. Kata-kata marketing nya benar-benar totalitas. Belum pernah kan denger ada masker yang bakal bikin muka bersahaja? Nah, masker ini bisa! Hehehe. Tapi, kalau saya lihat cara pemakaiannya, mungkin itu yang orang-orang zaman dulu lakukan ya. Betul-betul dijadikan bedak. Tapi buat saya, jadi masker saja cukup, karena bedak ini sangat menyerap minyak. Saya kan gak mau juga muka tiba-tiba jadi kering kerontang karena membiarkan bedak saripohatji ini lama-lama bertengger di atas kulit.

Awalnya, yang bikin saya jatuh cinta dengan masker ini adalah aromanya. Bedak saripohatji ini terbuat dari berbagai macam daun, buah, akar, dan pohon-pohon, yang membuat aromanya khas pada saat sudah diseduh. Bukan aroma wangi, aromanya aneh. Beberapa orang mungkin bakal gak suka dengan baunya, tapi saya sendiri malah suka banget. Pertama kali mengoleskan masker ini ke wajah, kulit wajah seketika langsung nyessss... adem. Saya baru sadar, mungkin ini kenapa orang-orang menyebutnya bedak dingin, karena memang menimbulkan sensasi dingin. Masker ini termasuk cepat kering, gak perlu nunggu lama-lama bisa langsung bilas.

Masker Yang Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Setelah menggunakan masker ini, esoknya, jerawat saya kempes semua! Sumpah ya, ini saya gak bohong. Tekstur kulit wajah lebih rata karena jerawat dan beruntusan menjadi kering. Selama ini saya sudah menghabiskan hampir 3 bungkus bedak Saripohatji dan jerawat gak pernah datang lagi. Kalaupun muncul jerawat, jerawat sopan, hanya 1 atau 2, bukan yang datang bergerombol. Gak ada efek lain yang saya rasakan selain efeknya terhadap jerawat. Jadi saya simpulkan, bedak saripohatji ini lebih dikhususkan bagi kalian yang memiliki kulit berminyak-berjerawat. Masker ini memang benar-benar mengurangi kadar minyak di wajah, makanya menurut saya agak kurang cocok jika digunakan di kulit kering. Jadi kalau kalian yang punya kulit kering tapi berjerawat ingin mencoba produk ini, ada 2 tips yang bisa saya kasih :
  1. Gak perlu memakai masker ke seluruh wajah, cukup ditotol di bagian-bagian jerawatnya saja
  2. Kalau ingin dipakai di seluruh wajah, cukup didiamkan sebentar, gak perlu menunggu maskernya kering, langsung bilas dan gunakan pelembap.
Nah, 2 itu adalah masker favorit saya selama hamil. Alhamdulillah, saat ini jerawat sudah hilang. Tinggal menunggu bekas-bekasnya memudar. Kalau kalian, terutama bumil, ada gak masker favorit kalian? Sharing dong! Siapa tau saya bisa keracun juga!

You May Also Like

0 comments