Memahami Perjalanan Hidup dari Novel Rindu - Tere Liye

by - July 12, 2019


Akhirnya, setelah melewatkan beberapa kali kolaborasi dengan Bandung Hijab Blogger, kali ini saya bisa kembali lagi dengan rutinitas yang lebih senggang, lebih santai, dan lebih niat untuk menulis. Kali ini temanya adalah "My June Favorite", barang atau hal-hal yang menjadi favorit kami di Bulan Juni. Karena saya sedang dalam puasa skincare dan kosmetik, demi kesehatan kakak bayi, jadi saya akan sedikit bercerita tentang buku lokal yang sebetulnya bukan hanya di Bulan Juni saja, tapi akan menjadi salah satu buku favorit saya sepanjang hidup.


Sebenarnya saya gak familiar dengan pengarang buku Indonesia, hanya sedikit saja yang saya tau, itupun karena rekomendasi teman-teman. Lalu muncullah nama ini, Tere Liye, nama yang sering saya lihat di kutipan-kutipan tentang motivasi, cinta, ataupun kehidupan. Kutipan-kutipan Tere Liye yang bersileweran di social media cenderung relatable, masuk dan cocok pada tiap aspek kehidupan. Biasanya saya agak malas baca buku-buku mainstream yang sering dipajang di bagian Best Seller toko-toko buku. Tapi, lama-lama saya penasaran juga dengan buku-buku Tere Liye, apalagi saat saya membaca sinopsis buku ini.

Buku Tere Liye yang saya beli pertama kali adalah novelnya yang berjudul Pulang dan Pergi. Saya agak terkejut setelah selesai baca kedua novel tersebut. Sejujurnya, plot cerita kedua novel tersebut bukanlah tipe novel yang saya suka, tapi suprisingly, saya ketagihan. Hanya membutuhkan 3 hari untuk menyelasaikan 2 novel tersebut, saking serunya ceritanya. Tapi bukan novel Pulang dan Pergi yang akan saya bahas di sini, tapi novel lain yang mendapat penghargaan Buku Islam Terbaik tahun 2015, yaitu Rindu.

 

Wahai laut yang temaram,
Apalah arti memiliki?
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami

Wahai laut yang lengang,
Apalah arti kehilangan?
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya
Kehilangan banyak pula saat menemukan

Wahai laut yang sunyi,
Apalah arti cinta?
Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai laut yang gelap,
Bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu?
Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.


Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.

Plot ceritanya adalah tentang perjalanan rombongan haji di tahun 1938, kala Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Perjalanan menggunakan kapal uap Belanda yang bernama  Holland  ini, diperkirakan memakan waktu beberapa bulan untuk dapat sampai di Jeddah. Novel ini menceritakan kisah-kisah para penumpang kapal selama perjalanan tersebut. Dimulai dari awal keberangkatan dari Pelabuhan Makassar, dan beberapa kali transit untuk menaikkan penumpang dari pulau lain, hingga akhirnya menuju ke laut lepas.

Fokus ceritanya bukan pada perjalanan itu sendiri, tapi pada permasalahan-permasalahan pribadi para penumpangnya. Dari sekian banyak penumpang Holland, ada 5 karakter yang menonjol dan punya peran khusus. Masing-masing mengantongi pertanyaan hidup yang selama ini tidak pernah mereka temukan jawabannya.

Pertanyaan pertama datang dari Bunda Upe. Bunda Upe memutuskan untuk menjadi mualaf di usianya yang tidak lagi muda. Kesehariannya di dek kapal adalah mengajar anak-anak mengaji selepas solat Ashar. Tidak ada satupun yang tahu, kecuali suaminya, mengenai masa lalu Bunda Upe. Masa lalu memilukan yang selalu ingin ia lupakan. Masa lalu yang terus membayangi hidupnya. Susah payah Bunda Upe pergi, tapi sejauh apapun ia berlari, bayang-bayang itu terus menghantui.


Pertanyaan-pertanyaan hidup yang lain datang dari 4 penumpang istimewa lainnya, Mbah Kakung, Daeng Adipati, Ambo Uleng, Gurutta Ahmad Karaeng. Saya gak akan membahas permasalahan dari karakter-karakter lainnya, karena saya rasa kurang seru kalau gak baca bukunya langsung. Tapi justru, di sini saya ingin membagikan kutipan - kutipan atau mungkin lebih tepatnya nasihat Gurutta yang diberikan pada penumpang-penumpang kala mereka menghadapi kegundahan atau kegalauan hati.

1. Tentang Cinta

"Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara yang mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan?"
(Tere Liye - Rindu)


"Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Aku tahu kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang cinta itu sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang pernah dipahami oleh pecinta. Mereka tidak pernah mau memahami penjelasannya."
(Tere Liye - Rindu) 

2. Tentang Memaafkan

"Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan memaafkan karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati."
(Tere Liye - Rindu) 

"Maka ketahuilah, Andi. Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, atau dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran baru yang benar-benar kosong."
(Tere Liye - Rindu) 

3. Tentang Kekecewaan

"Perjalanan hidupmu boleh jadi jauh sekali, Nak. Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan, itu pun sekedar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun, mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi itu semua sifatnya adalah pemberhentian semua. Dengan segera kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan paling hakiki."
 (Tere Liye - Rindu) 

"Maka jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka, jangan rusak kapal kehidupan milik kita, hingga dia tiba di pelabuhan terakhirnya.”
 (Tere Liye - Rindu) 
 
“Tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. Karena esok lusa, ada orang yang mengaku cinta, tapi dia melakukan begitu banyak maksiat, menginjak-injak semua peraturan dalam agama, menodai cinta itu sendiri.”
(Tere Liye - Rindu)  

Kutipan-kutipan di atas adalah nasihat-nasihat dari Gurutta yang paling mengena bagi saya. Ada satu hal yang saya suka dari buku ini selain nasihat-nasihat dari Gurutta, yaitu kenyataan bahwa seorang guru besar, panutan orang-orang yang seringkali menjadi tempat mereka berkeluh kesah dan mencari jawaban atas pertanyaan hidup, adalah seorang manusia juga, tidak sempurna. Bahwa sejatinya, Gurutta pun ternyata adalah seorang makhluk Tuhan yang memiliki pertanyaan dalam hidupnya yang masih ia kantongi sepanjang perjalanan tersebut.

You May Also Like

16 comments

  1. Ini cetakan baru teh? Aku sempet baca yang jilid putihnya tapi ga tamat tamat banyak godaan huhu

    ReplyDelete
  2. Yaampun teh aku juga selalu jatuh cinta bgt sama novel tere liye, rindu apalagi 😍

    ReplyDelete
  3. Tere Liye ini selalu ngasih banyak value di cerita-ceritanya ya

    ReplyDelete
  4. Jadi pengen baca ngulang ngulang gitu ya, kayanya wajib beli beberapa buku buku beginian deh biar isi kepala ini seimbang hehehe...

    ReplyDelete
  5. Aku bukan bibliophile, tapi baca sinopsisnya ko jadi tertarik pengen baca juga ya

    ReplyDelete
  6. Keren bukunyaa, aku juga sukaa buku ini

    ReplyDelete
  7. Sebenernya gk terlalu suka novel. Tapi kalau ada kutipan2 novel yg bernilai selalu suka, diarsipkan malah. Salahsatunya There Liye ini...

    ReplyDelete
  8. aku tuh suka tere liye tapi gak pernah lanjut baca lagi karyanya terakhir pas kuliah. pas liat tulisan teteh jadi pengen baca lagi deh

    ReplyDelete
  9. Setiap anis update blogpost baru pasti penasaran tulis apa nih kali ini karena selalu berhasil bikin aku "mikir" wae termasuk kali ini. Makasi banyak sharingny ya nis :)

    ReplyDelete
  10. Ah dalem banget ini. Dulu ak seneng baca buku kaya gini. Tapi setelah beranak dua, susah banget mau namatin satu buku aja :-(

    ReplyDelete
  11. Aku pecinta novel2 hasil karya Tere Liye juga, banyak kutipan-kutipan beliau yang memang "iya juga ya", "bener juga sih", cumaa..hehe maap, menurutku beliau itu orangnya agak gimana gitu kalau dikritik, tapi itu kalau dilihat dari fanspage nya ya, gatau sih kalau ketemu orangnya langsung. ((jadi ngomongin orang))

    ReplyDelete
  12. buku" tereliye emg keren bnget deh, tp aku blm pernah baca yg ini

    ReplyDelete
  13. waahh terbaikkk bgt sihh emang tere liye tuh kata-katanya selalu ngena

    ReplyDelete
  14. Aku penasaran banget sama novelnya karena ada kutipannya

    ReplyDelete
  15. Karya-karya beliau memang selalu luar biasa

    ReplyDelete