Betulkah Konten Horror di Sosmed Penuh Kebohongan?

Maraknya konten paranormal experience di social media, terutama di youtube channel, memang menarik banyak kalangan. Sebutlah Jurnal Risa, Kisah Tanah Jawa, Paranormal Experience Raditya Dika, dan masih banyak lagi. Gak cuma buat orang-orang yang berani, tapi buat orang-orang yang penakut semacam saya, konten-konten ini memang menarik. Sebetulnya saya juga heran dengan tipe orang seperti saya. Udah tau penakut, udah tau gak berani sendirian di tempat gelap, tapi tetep aja tertarik buat ngikutin cerita-cerita berbau paranormal. Saya sering ditegur berkali-kali oleh ibu dan kakak saya, jangan suka nonton film yang ada "uka-uka" nya, karena menjadi penakut bukanlah hal yang membanggakan. Ya, tapi tetep aja, saya dan adik biasanya diam-diam streaming film hantu, meskipun saya lebih banyak nonton telapak tangan dibanding layar TV.

Betulkah Konten Horror di Sosmed Penuh Kebohongan?

Kembali lagi ke topik, kita tahu betul bahwa segala sesuatu pasti ada pro dan kontranya. Ternyata, banyak juga kubu orang-orang yang skeptis dan gak percaya dengan hal-hal semacam itu. Contohnya, Rey Utami dan suaminya -yang saya gak tau siapa namanya itu-, tiba-tiba muncul dan mengkritisi Jurnal Risa yang dianggap membodoh-bodohi penontonnya. Mereka bilang bahwa Jurnal Risa hanya mengarang cerita, bahwa Asih, Peter, Hans, Johnson, Marianne dan yang lainnya hanyalah karangan Risa dan sepupu-sepupunya. 

Pasangan suami istri yang gak terkenal itu juga bilang kalau adegan kesurupan dalam Jurnal Risa terlihat terlalu "kalem", gak seperti yang selazimnya terjadi (btw, emang lazimnya kesurupan itu seperti apa?). Padahal, Risa sering bilang kalau yang dia lakukan adalah mediasi, bukan kesurupan. Yang artinya, kontrol masih ada pada Risa, bukan pada si huntu seperti yang terjadi saat kesurupan. Dan ya, kalau misalkan si suami istri ini memang gak percaya, ya sudah, seharusnya mereka sadar bahwa mereka bukan pasarnya Jurnal Risa, gak perlu ditonton juga, apalagi untuk membully. Eh, tapi beberapa waktu setelahnya, suami istri ini mengaku bahwa mereka hanya ingin panjat sosial. Oh..hm...yaaa.. baiklah.


Selain Rey Utami dan suaminya, banyak orang-orang seperti mereka ini. Bukan sekedar gak percaya, tapi juga membully dan menjatuhkan orang-orang yang memiliki konten tersebut. Hal ini juga yang dirasakan oleh seorang pria yang viral akhir-akhir ini karena ceritanya tentang bis hantu. Gak familiar dengan ceritanya?  Jadi gini..

Cerita ini viral dari unggahan Instastory seorang pria bernama Hebi di akunnya @hebosto. Hebi ini bercerita mengenai keanehan-keanehan di bis yang ia tumpangi. Dari mulai suasananya yang mencekam, bau-bau anyir, kenek yang gak mau dibayar, dan foto yang menunjukkan bahwa kursi-kursi di belakangnya kosong melompong gak ada orang padahal ia sadar betul bahwa bis tersebut penuh. Yang tertarik dan merasa merinding dengan cerita ini, banyak. Tapi yang gak percaya dan menuduh Hebi hanya ingin numpang viral juga gak kalah banyaknya. Bahkan sedihnya, istri dan anaknya sempat ikut dibully, disumpahi agar diikuti setan-setan. Emang netizen-netizen model begini mulutnya sampah banget.

Saya juga sempat nonton video Raditya Dika yang menanggapi kisah bis hantu yang viral tersebut. Saya sepakat bahwa apa yang diungkapkan oleh Hebi itu dapat percaya, tentang bau anyir, suasana mencekam, hasil foto yang menunjukkan bis dalam keadaan kosong, itu benar adanya. Tapi, yang belum pasti adalah kesimpulan bahwa semua itu terjadi karena ia berada di dalam bis hantu. Bisa jadi ada penjelasan lain, walaupun saya gak tau penjelasan apa yang masuk akal selain itu memang bis berhantu. 

Saya sendiri gak bisa menilai tentang kebenaran cerita paranormal activity yang banyak tayang di beberapa youtube channel. Saya gak punya kemampuan untuk melihat ataupun merasakan hal-hal seperti itu (syukurlah), jadi saya gak tau juga apakah mereka jujur atau bohong. Cuma ya saya percaya bahwa beberapa orang dianugerahi kemampuan untuk bisa merasakan hal-hal semacam itu, dengan kapasitas yang berbeda-beda. Saya juga percaya bahwa banyak hal-hal di dunia ini yang sulit dijelaskan secara ilmiah. Apalagi jika menonton youtube channel Kisah Tanah Jawa, saya selalu tertarik dengan penjelasan-penjelasan Om Hao mengenai hal-hal yang berbau spiritual. Gak melulu soal seram-seramnya hantu, Om Hao juga sesekali bercerita dan meluruskan tentang apa-apa yang menurutnya terjadi di alam "sana".

Pertama kali saya menyimak Kisah Tanah Jawa, tentu saja dari channelnya Raditya Dika. Saat itu tema yang sedang di angkat di konten Paranormal Experience adalah tentang rumah sakit yang konon angker. Om Hao dan kedua rekannya -yang saya lupa namanya-, bercerita tentang pengalamannya dalam menjelajahi ruangan-ruangan yang ada di rumah sakit tersebut. Bedanya dibanding konten horror yang lain, Om Hao menyampaikan bahwa dalam perjalanan mereka menjelajahi tempat yang dihuni makhluk-makhluk astral, mereka membutuhkan izin dari warga setempat, tentunya yang bentuknya halus juga. Gak semua memberikan izin, kalaupun ada, biasanya dibatas hanya beberapa jam itupun dengan beberapa persyaratan. Contohnya, pada saat berkunjung ke rumah sakit tersebut, Om Hao diharuskan untuk memakai baju operasi, itu adalah semacam permintaan dari penunggu yang ada di sana.


Selain bercerita tentang tempat-tempat angker, Om Hao juga menjelaskan mengenai hal-hal mistis yang gak jarang terjadi di sekitar kita. Contohnya tentang bagaimana kita bisa secara sadar melihat orang yang seharusnya sudah meninggal sedang melakukan aktivitas yang memang sehari-hari ia lakukan. Di tiap kesempatan Om Hao juga sering membahas mengenai ruang dan waktu, bagaimana suatu ruangan bisa merekam semua aktivitas yang kita lakukan dan memutarnya kembali. Juga tentang aura-aura yang dimiliki orang, tentang orang-orang "besar" yang terlahir dengan aura yang berbeda dan memiliki mahkota di kepalanya.

Berkali-kali saya menyimak Kisah Tanah Jawa, gak sekali dua kali saya bingung, memutar ulang videonya untuk mendengar kembali penjelasan dari Om Hao. Tapi tetep aja, kadang ya gak mudeng dan gak masuk akal. Tapi sebetulnya, yang membuat saya tetap tertarik dan menyimak channel-channel seperti ini bukan karena saya 100% percaya, tapi hanya karena ingin mendengar dan memahami perspesktif orang-orang seperti Om Hao ini. Lagipula, kalaupun mereka berbohong, ya gak bikin saya rugi, karena apa-apa yang saya lihat dan dengar gak serta merta mempengaruhi value atau prinsip hidup saya kan. Jadi ya mengenai konten-konten horror ini, biarkan saja. Cukup nikmati jika kalian merasa terhibur, dan tinggalkan jika kalian merasa terganggu. Setuju gak? Atau kamu punya pendapat lain?

Redwin Sorbolene Moisturiser, Lotion Andalan Si Kulit Kering dan Sensitif

Siapa di sini yang sedang dalam pencarian lotion yang bikin kulit cerah seketika? Maaf, sayang sekali bukan di sini tempatnya. Tulisan ini khusus kamu-kamu yang sedang mencari lotion yang super melembapkan tapi gak bikin lengket. Menurut saya, punya kulit yang selalu terhidrasi, lembap, dan kenyal adalah goal yang harus saya capai. Alih-alih mencari lotion untuk mencerahkan kulit, saya selalu suka lotion yang ngasih nutrisi dan kelembapan maksimal untuk kulit saya. Bukan berarti saya menghakimi teman-teman yang berambisi untuk punya kulit putih ya, kalau kalian memang lebih concern dengan kulit yang cerah, ya go for it. Tapi ya sayang, produk yang akan saya ulas sekarang gak punya efek untuk mencerahkan kulit sama sekali. 

Bicara tentang produk pelembap, pilihannya sangat banyak. Tapi, biasanya kendala dari produk-produk pelembap adalah tekstur lengket dan licin saat terkena air. Buat saya, produk-produk seperti itu kadang bikin saya malas ke WC, karena menghindari kulit terkena air, malas dengan sensasi licin-licinnya. Tapi, beda dengan produk sorbolene yang akan saya ulas sekarang. Eh, apa? Sorbolene? Iya, sorbolene! Bagi yang belum pernah dengar, sorbolene adalah jenis krim yang sangat aman digunakan oleh segala kalangan, tidak membuat iritasi, tidak berbau, dan dapat digunakan pada semua jenis kulit.

Menurut dr. Ricky Jayadi, sorbolene kaya akan kandungan gliserin, yang berasal dari bahan alami, diketahui paling cepat dan efektif meredakan rasa tak nyaman pada kulit kering atau kulit teriritasi akibat sinar matahari. Gliserin bekerja dengan cara mengikat air di sekelilingnya untuk melembapkan kulit. Di dunia kedokteran kulit, sorbolene sudah seringkali diresepkan pasien dengan masalah kulit, terutama eksim. Sorbolene mengandung pula elemen petroleum yang menutupi dan melindungi kulit dari bakteri dan virus. Meski demikian, sorbolene bersifat non-comedogenic, tidak akan menggumpal dan menyumbat pori-pori.

Saya gak begitu famiiar dengan produk-produk sorbolene yang lain, tapi untuk produk yang saya ulas kali ini pasti sudah sering kalian dengar, sorbolene no 1 keluaran Australia, yaitu Redwin Sorbolene Moisturiser.

INFORMASI PRODUK


Review Redwin Sorbolane Moisturiser Indonesia Anisa Firdausi 
Redwin Sensitive Skin Sorbolene Moisturiser
Made In Australia 
Pharmacare Laboratories Pty Ltd,
18 Jubilee Avenue Warriewood
NSW 2102 Australia

KEMASAN

 Review Redwin Sorbolane Moisturiser Indonesia Anisa Firdausi

Redwin ini mengeluarkan berbagai jenis produk dengan volume yang berbeda, sehingga kemasannyapun berbeda. Ukuran 100 gram berbentuk tube, sedangkan ukuran-ukuran di atas itu, 500 ml, 1 liter, 2 liter berbentuk pump. Keduanya ada plus minusnya. Kemasan tube sangat praktis untuk dibawa kemana-mana tapi jika dilihat dari berat bersihnya, harganya lebih mahal dibanding yang kemasan pump, dan juga kita perlu mengontrol jumlah produk yang akan dikeluarkan.. Kemasan pump, memudahkan kita dalam mengeluarkan produknya, tapi selain kemasannya sulit untuk dibawa-bawa, model pump ini sering menyisakan banyak produk di dasar kemasan. Bagi saya, tipe yang suka ngisi air ke sampo atau sabun yang tinggal dikit lagiterus dikocok-kocok, rasanya gak tega kalau buang produk yang masih ada sisa-sisanya.

KLAIM

Dari namanya, jelas produk ini bermaksud untuk memberikan kelembapan, khususnya untuk kulit sensitif. Kenapa sih produk ini bisa aman banget, sampai-sampai bayipun boleh pakai? Karena sorbolene ini gak mengandung pewangi, pewarna, dan paraben, sehingga aman banget untuk dipakai semua kalangan dan semua jenis kulit.

Review Redwin Sorbolane Moisturiser Indonesia Anisa Firdausi

Gak cuma untuk melembapkan dan mengatasi kulit kering pecah-pecah, Redwin Sorbolene Moisturiser ini juga punya beberapa fungsi lainnya, seperti :
- Mengatasi ruam popok, ruam kulit, dan kulit terbakar pada bayi
- Sebagai shaving cream kaki, ketiak, dan wajah
- Sebagai make up remover

CARA PAKAI

Untuk hasil terbaik, gunakan sedikit produk pada kulit. Setelah menyerap, ulangi kembali. Gunakan setiap hari setelah mandi dan setelah terkena sinar matahari.

KANDUNGAN

Review Redwin Sorbolane Moisturiser Indonesia Anisa Firdausi

TESKTUR, WARNA, DAN AROMA

Krim berwarna putih dan kental ini awalnya bikin saya curiga. Jangan-jangan ujung-ujungnya sorbolene ini berat dan licin-licin kalau kena air. Ternyata enggak dong! Teksturnya memang kental, tapi menyerap dengan sangat cepat. Awalnya memang terasa berat, tapi setelah beberapa menit, rasa lengket dan berat dari sorbolenenya hilang gitu aja. Sedangkan untuk aromanya, karena sorbolene ini gak mengandung pewangi sama sekali, aromanya seperti obat, seperti salep. Jadi ya jangan ngarep kulitmu bakal wangi seperti kamu menggunakan sorbolene pada umumnya. Tapi bagi saya, wangi itu tugasnya parfum, bukan lotion, jadi ya gak wangipun gak masalah.

HASIL PEMAKAIAN

Seperti yang tadi saya bilang, saya selalu malas pakai lotion kalau hasilnya licin saat terkena air. Bikin gak nyaman kalau harus ke WC ataupun wudhu. Karena malas itu, akhirnya kulit saya jadi sering keliatan kering. Apalagi karena kulit saya sawo matang, kulit kering dan bersisik lebih terlihat. Akhirnya, suatu ketika saya dapat endorse dari Redwin Sorbolene Moisturiser ini, dan langsung jatuh cinta secepat itu.

Review Redwin Sorbolane Moisturiser Indonesia Anisa Firdausi

Teksturnya yang padat gak jadi masalah buat saya, selama hasilnya gak licin dan gak bikin lengket. Beberapa orang mengeluhkan sensasi lengket di awal pemakaian, tapi saya enggak. Wajar untuk suatu produk membutuhkan waktu untuk bisa menyerap ke dalam epidermis kulit. Justru yang bikin saya takjub adalah sensasi setelah sorbolenenya menyerap, betul-betul lembap tanpa rasa lengket. Rasanya seperti kulitmu memang sehalus itu tanpa menggunakan lotion apapun. Betul-betul ringan dan gak licin saat terkena air.

Hal lain yang saya suka adalah efek melembapkan yang bertahan lama. Dalam sehari, biasanya saya 2x menggunakan Redwin Sorbolene Moisturiser ini, sesuai jumlah saya mandi. Tapi kalau saya lagi malas mandi sore, saya skip sorboene ini. Tapi... kulit saya tetap halus. Jadi, kalau misalnya lotion lain hanya memberikan efek jangka pendek, saya rasa Redwin Sorbolene Moisturiser ini punya efek yang cukup lama dalam hal melembapkan kulit. Percaya atau nggak, semenjak saya menggunakan sorbolene ini, saya bisa merasakan perbedaan dan perubahan positif dari kulit saya. Suer deh, kulit saya jauuuuh lebih haluus dan lembut, jauh dari kering-kering atau sisik apalah itu. Saya jadi seneng megang-megang tangan karena saking lembut dan halusnya ini kulit, apalagi suami saya.

Beberapa orang ada yang sukses memudarkan sampai menghilangkan stretch mark yang ada pada bagian tubuhnya. Tapi buat saya, sorbolene ini hanya sebatas menghaluskan tekstur stretch mark tersebut, membuatnya menjadi sama rata, sama halusnya dengan bagian kulit yang lain. Saya sih puas, karena dibanding dengan lotion yang pernah saya pakai sebelumnya, hanya sorbolene ini yang punya efek pada stretch mark kulit, sisanya gak ngaruh apa-apa.

Untuk fungsi-fungsi lainnya, saya belum pernah coba. Saya belum pernah mencoba ini di kulit bayi, karena bayinya juga belum ada. Untuk shaving juga belum pernah. Lalu untuk menghapus make up, karena saya punya banyak produk penghapus make up, yaaa pakai yang ada aja. Kalau semua-semua dikerjain sama si sorbolene ini kasian yang lain jadi gak ada kerjaan.

KESIMPULAN

+ Multifungsi, bisa digunakan semua jenis kulit
+ Gak licin saat terkena air
+ Tanpa pewangi
+ Tanpa pewarna
+ Tanpa paraben
+ Melembapkan dalam jangka waktu yang lama
+ Membuat kulit jauh lebih halus
- Butuh waktu untuk diratakan dan menyerap ke dalam kulit

Harga : IDR 75.000 untuk 100 gr, IDR 130.000 untuk 500 ml
Nilai : 5/5


3 Alasan Krim Wajah Abal-Abal Masih Diminati

Masih ingat gak, dulu saya pernah cerita kalau suatu hari saya belanja di pasar lalu menemukan ibu-ibu paruh baya yang membeli krim gajebo (gak jelas, bo!) seharga 7.500 per pot nya? Krim dalam pot transparan dengan warna kuning dan putih, yang pasti salah satunya adalah krim pagi/siang, dan yang satunya lagi adalah krim malamnya. Padahal, kejadian itu rasanya sudah lebih dari 4 tahun lalu. Tapi sedihnya, sampai saat ini, krim-krim setipe dengan merk jual dan harga yang variatif, masih saja berbedar, dan laku di pasaran.

Alasan Krim Wajah ABal Bermerkuri Banyak Diminati

Kenapa krim ini bisa seberbahaya itu? Jelas karena bahan-bahan yang digunakan bukanlah bahan-bahan yang sewajarnya dipakai dalam membuat skincare. Dua kandungan berbahaya yang seringkali digunakan pada krim abal tersebut adalah merkuri dan hydroquinone. Merkuri memang memiliki kemampuan menghambat pembentukan melamin sehingga kulit tampak lebih cerah dalam waktu yang singkat. Padahal di balik itu, banyak efek negatif yang ditimbulkan dari senyawa ini. Bukan cuma permasalahan kulit, merkuri juga beresiko mengganggu berbagai organ tubuh seperti otak, ginjal, jantung, dan organ lainnya.

Hydroquinone sebetulnya sering digunakan pada obat kulit yang dikeluarkan oleh dokter. Jadi jelas ya, ini adalah obat, bukan skincare pemutih meskipun hydroquinone sendiri berfungsi dalam mengatasi hiperpigmentasi atau flek hitam yang diakibatkan oleh paparan sinar matahari. Penggunaan hydroquinone harus berada di bawah pengawasan dokter dengan dosis yang sudah ditentukan. Biasanya dokter juga menghindari penggunaan obat ini pada ibu hamil dan anak-anak di bawah umur. Penggunaan hydroquinone bukan untuk penggunaan jangka panjang. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kulit iritasi, kemerahan, terbakar, kemerahan, atau bahkan kehitaman yang permanen.

Melihat banyaknya masyarakat yang masih tertarik dengan krim-krim berbahaya ini bikin saya penasaran mencari tau apa sebetulnya yang melatarbelakangi kenekatan orang-orang ini untuk memakai krim yang berembel-embel "krim dokter". Padahal, logikanya saja, dokter kulit adalah dokter. Gimana caranya seorang dokter bisa merekomendasikan suatu produk/ obat tanpa melihat secara langsung permasalahan yang dialami oleh pasiennya. Bahkan dokter online di aplikasi berbayar pun gak pernah memberikan resep obat tanpa melakukan tatap muka. Tapi ya tetap saja, masih banyak yang percaya kalau ada dokter yang bisa membuat skincare yang cocok dengan semua orang, apapun permasalahan kulitnya.

Memang susah sih, menyadarkan orang tentang betapa berbahayanya krim yang mereka pakai. Saya sendiri pernah menegur ibu yang pernah menggunakan krim semacam ini, padahal sebetulnya gak punya permasalahan serius dengan kulit wajahnya. Bahkan, untuk usia lebih dari setengah abad, ibu sering disangka  masih berusia 40an. Sedikit flek hitam karena keras kepala gak pernah mau pakai sunscreen adalah satu-satunya permasalahan kulitnya. Tapi, sebetulnya itupun gak terlalu kelihatan kecuali dilihat di bawah sinar matahari. Cuma ya, namanya ibu-ibu, gampang banget tergoda opini-opini tetangga. 

Ceritanya suatu hari, temannya menawarkan paketan krim wajah degan bahan-bahan "alami" yang selama ini ia pakai, dan sukses menghilangkan flek-flek hitam di wajahnya. Memang betul, wajahnya menjadi lebih bersih dan putih (putih ya, bukan cerah). Setelahnya, ibu ikut serta menggunakan produk tersebut. Bukannya saya membiarkan, tapi butuh waktu untuk menjelaskan betapa berbahanya krim krim gak jelas tersebut. Kira-kira, kenapa sih begitu sulitnya menghilangkan krim berbahaya ini dari pasar? Kenapa krim-krim ini masih punya banyak peminatnya?

Hasil pengamatan saya selama ini, ternyata ada beberapa poin yang saya rasa merupakan alasan-alasan kenapa krim gajebo ini bisa bertahan lama di pasaran, di antaranya :

1. Efek Pemutih Instan

Bagi saya yang sering skeptis dengan janji-janji manis suatu produk, bakal langsung curiga kalau ada satu produk yang menjanjikan dan membuktikan bahwa produk tersebut dapat membuat kulit putih secara instan hanya dalam 2 minggu. Rasanya too good to be true. Terlalu mustahil dan gak masuk akal. Tapi sebaliknya, ada juga yang menganggap produk ini adalah penemuan cerdas dan menggiurkan, apalagi dengan harga yang terjangkau dibanding harus pergi ke klinik kecantikan dan harus mengeluarkan biaya dokter.

Alasan Krim Wajah ABal Bermerkuri Banyak Diminati
Sumber gambar : hipwee.com
Padahal, kalau mau berpikir secara logis, jika sebegitu mudahnya mendapatkan krim yang bisa membuat wajah licin, mulus hanya dalam 2 minggu, lalu kenapa SK II yang harganya jutaan saja butuh waktu beberapa bulan untuk menunjukkan efeknya? Kalau memang ada bahan "alami" yang murah dan bisa menghilangkan jerawat dan cocok di segala jenis kulit, kenapa brand brand drugstore gak ikut mencobanya? Semua pasti ada alasannya, dan untuk ini alasannya ya karena bahan-bahan yang digunakan adalah bahan yang berbahaya dan gak aman untuk kulit! Brand-brand besar, brand-brand legal, gak akan mau mengambil resiko menggunakan bahan-bahan seperti itu.

2. Efek Samping Gak Langsung Terasa

Memang lebih mudah untuk berhenti menggunakan produk yang langsung memberikan reaksi negatif pada tubuh kita. Tapi gimana ceritanya kalau efek negatif itu baru kita rasakan beberapa tahun ke depan?

Waktu saya menegur teman yang juga menggunakan krim abal ini, reaksinya sama seperti ibu saya, "ah aman-aman aja kok, aku pakai ini gak kenapa-kenapa". Padahal, kalau mau baca, banyak kok informasi seputar krim krim abal, betapa berbahayanya krim ini hingga dapat menyebabkan kanker kulit. Memang bukan sekarang, tapi resiko-resiko berbahaya sudah menanti di tahun-tahun ke depan. Hiii..

3. Maraknya Promosi Oleh Artis

Yang ini juga gak bisa dipungkiri. Beberapa artis berkulit mulus banyak yang masih mempromosikan krim-krim yang gak jelas kandungannya. Ya jelas, masyarakat, terutama yang awam dengan dunia kecantikan, bakal tergiur dan percaya bahwa kemulusan dan kecantikan si artis ini adalah hasil dari penggunaan krim tersebut. Padahal, ya moso aja? Biaya perawatan mereka aslinya mungkin seratus kali lebih mahal dari biaya krim yang mereka promosikan.

Masih ingat kasus artis-artis yang terjerat hukum karena mempromosikan krim kulit yang berbahaya? Ingat apa yang polisi bilang? "Proses promosinya seolah-olah artis itu memakai produk kecantiknya itu, padahal tidak."

Yo lagian kalau mau mikir sih ya, masa artis-artis itu cuma pakai krim senilai 300ribu aja, masa kalah sama saya yang pakai skincare jutaan (padahal nyicil).

Alasan Krim Wajah ABal Bermerkuri Banyak Diminati
Sumber gambar : winnetnews.com
Nah, itu adalah 3 poin yang menurut saya menjadi faktor utama kenapa krim abal-abal ini masih banyak beredar di pasaran. Memang, ada beberapa brand yang baru saja mengeluarkan produk dan kadang saya juga masih bingung keasliannya. Makanya, penting untuk banyak-banyak mencari informasi sebelum membeli suatu produk. Salah satunya dengan cara memastikan produk tersebut sudah terdaftar di BPOM. Selain itu, sudah banyak informasi yang menjabarkan mengenai ciri-ciri krim bermerkuri, seperti warna yang mengkilat, aroma yang cukup menyengat, dan hal-hal lainnya. Intinya adalah, untuk menjadi cantik, kita perlu pintar juga, jangan malas untuk membaca, jangan mudah percaya dengan skincare yang serba instan. Biasanya, yang instan-instan memang patut dicurigai, ya gak sih?

Mengenal Exfoliator : Physical Exfoliator, Chemical Exfoliator, AHA, BHA? Apa Bedanya?

Eksfoliasi atau pengangkatan sel kulit mati adalah salah satu step penting dalam perawatan wajah. Penumpukan sel kulit mati dan kotoran, kerap kali menimbulkan permasalahan kulit wajah. Dari mulai komedo, tekstur dan warna kulit yang gak merata, sampai jerawat yang meradang. Sebetulnya, kulit kita punya kemampuan untuk meregenerasi kulit secara alami dalam periode waktu tertentu. Normalnya, di usia remaja, regenerasi kulit terjadi setiap 28 hari sekali. Tapi, tentu saja, semakin bertambah usia kita, kemampuan regenerasi ini menurun, semakin lama. Oleh karena itu, kita butuh exfoliator lain untuk mengoptimalkan regenerasi kulit ini.
 


Bagi yang sudah sering menggunakan produk-produk exfoliator, pasti paham kalau sebetulnya exfoliator ini terbagi menjadi 2, physical exfoliator dan chemical exfoliator. Physical exfoliator tampaknya booming lebih dulu dibanding dengan chemical exfoliator. Produk physical exfoliator memanfaatkan tekstur kasar pada produknya (yang biasa kita sebut scrub), dalam rangka mengangkat sel-sel kulit mati.  Bahannya cenderung sederhana dan mudah ditemukan, contohnya kopi, biji aprikot, gula, dan lain-lain. Produk-produknya pun cenderung mudah ditemukan, dari mulai brand lokal maupun brand luar. Bahkan rasanya, hampir 90% exfoliator yang dikeluarkan oleh brand lokal adalah tipe exfoliator ini. Berikut adalah contoh-contoh physical exfoliator:

 produk-produk physical exfoliator anisa firdausi

Tapi, kalian juga harus paham efek samping dari physical exfoliator ini. Dikarenakan mengandung butiran-butiran scrub, ada gesekan yang cukup intens antara butiran scrub dengan permukaan kulit. . Jadi, ingat untuk selalu menggunakannya secara gentle, pelan-pelan, untuk menghindari resiko kulit menjadi iritasi ataupun kulit kering. Lalu, ada baiknya, kalian pilih jenis scrub dengan butiran kecil-kecil, atau yang biasa disebut microbeads, agar kulitmu tetap aman.

Selanjutnya kita beralih ke chemical exfoliator yang saat ini sedang booming. Beda dengan physical exfoliator yang mengandalkan bentuk dan tekstur dari produknya, chemical exfoliator fokus pada kandungan kimia  (umumnya menggunakan acid), yang berfungsi untuk membantu kulit melakukan regenerasi. AHA dan BHA merupakan kandungan yang umum terkandung pada produk chemical exfoliator. Saya yakin kalian pernah dengar kan produk-produk yang sekarang lagi booming-boomingnya, yang seringkali menonjolkan kandungan AHA ataupun BHA, tapi sebenarnya apa sih bedanya?

AHA adalah singkatan dari Alpha Hydroxy Acids atau asam alfa hidroksi. Jenis asam ini sering terkandung dalam makanan, terutama buah-buahan. Dalam skincare, AHA bekerja memperbaiki kulit yang 'rusak' akibat paparan sinar matahari, seperti hiperpigmentasi, warna dan tekstur kulit yang gak rata, juga memperbaiki tingkat kolagen, serta menjaga kelembapan kulit. Oleh karena itu, biasanya AHA lebih direkomendasikan untuk orang-orang dengan kulit yang normal, sensitif, dan kering. Bagi kalian yang mengalami hiperpigmentasi karena paparan sinar matahari, kalian bisa menggunakan produk dengan kandungan AHA sebesar 5%-10%. Beberapa skincare memang ada yang menonjolkan kandungan AHA pada produknya, tapi ada juga yang hanya menuliskannya di bagian ingridients, dan biasanya dituliskan dalam bentuk lain seperti glycolic acid, lactic acid, atau citric acid. Di bawah ini adalah contoh produk-produk yang mengandung AHA :

produk-produk chemical exfoliant AHA

Meskipun AHA dan BHA terdengar mirip-mirip, tapi ternyata keduanya memiliki komponen yang berbeda, fungsinyapun berbeda. Jika tadi AHA lebih cocok digunakan untuk kulit kering, sebaliknya, penggunaan BHA disarankan bagi orang-orang dengan kulit berminyak, pori-pori besar, dan berjerawat. Bentuk lain BHA yang sering dicantumkan di dalam ingridients list suatu produk adalah salicylic acid. Jika batas aman AHA bisa sampai 10%, BHA akan lebh efektif jika konsentrat dalam produknya tidak lebih dari 4%. Berikut adalah contoh produk-produk yang mengandung BHA :

produk-produk chemical exfoliant BHA

Tidak hanya AHA dan BHA saja, sekarang banyak produk yang mengandung AHA dan BHA bahkan PHA sekaligus dalam 1 produk. Balik lagi, semuanya harus disesuaikan dengan jenis kulit kalian, apa yang sebetulnya dibutuhkan. Jangan hanya karena tergiur dengan banyaknya kandungan exfoliator dalam 1 produk, kalian menganggap produk tersebut akan lebih optimal bekerja di kulit kalian. Balik lagi, skincare itu cocok-cocokkan. Kadang yang terlalu berlebihanpun gak akan baik kan?

Bingung Membedakan Purging dan Break Out? Simak Ulasannya Di Sini!

Purging dan break out adalah dua hal yang gak asing bagi pecinta skincare. Meskipun keduanya memiliki reaksi yang mirip, purging dan break out adalah dua hal yang saling berlawanan. Karena memiliki reaksi yang mirip, kebanyakan dari kita kadang bingung memutuskan untuk melanjutkan atau menghentikan skincare tersebut. Lalu sebenarnya, apa sih bedanya purging dan break out?

Secara sederhana, purging diartikan sebagai proses detoksifikasi racun-racun atau kotoran yang berada di dalam kulit. Proses detoksifikasi ini membuat kotoran dan racun yang ada dalam kulit menjadi muncul ke permukaan dan berubah menjadi jerawat. Sedangkan break out adalah reaksi yang timbul akibat ketidakcocokan kulit terhadap bahan yang terkandung pada suatu skincare. Reaksinya sama dengan purging, yaitu munculnya jerawat secara tiba-tiba.

Perbedaan Purging dan Break Out Anisa Firdausi
 
Saya sendiri terlahir dengan kulit berminyak yang mudah berjerawat, juga sangat reaktif terhadap bahan skincare yang gak cocok. Padahal, saya selalu bercita cita ingin punya kulit 'badak'. Bukan, bukan berarti saya berharap punya kulit yang ada cula nya, kulit badak di sini mengacu pada jenis kulit yang gak sensitif, dan cenderung jarang bermasalah dengan bahan-bahan skincare.

Sayangnya, cita-cita itu gak pernah tercapai. Semenjak SD saya memang sudah berjerawat, jadi ketika saya sudah kuliah, sudah mulai mencoba-coba skincare, jerawat yang muncul gak pernah terlalu saya pikirkan. Saya pikir, ya beginilah nasib punya kulit berminyak. Padahal, jika saya berpikir ulang apa yang terjadi kala itu, beberapa kemungkinan jerawat-jerawat tersebut adalah break out, kadang juga purging. Sampai akhirnya bertahun-tahun saya menjadi beauty blogger, sudah semakin banyak pengalaman saya menggunakan skincare, saya semakin peka dan paham akan perbedaan reaksi yang ditimbulkan ketika saya purging maupun break out. Masalah ini, mungkin tiap orang mengalami hal yang berbeda, tapi mungkin kalian ada yang punya pengalaman yang mirip atau bahkan sama dengan saya. Jadi gimana sih cara membedakan kalau jerawat yang timbul setelah menggunakan skincare ini? break out kah atau purging kah?

1. Perhatikan jangka waktunya

Perbedaan Purging dan Break Out Anisa Firdausi
Ini adalah tips yang paling umum dan sederhana. Karena purging adalah proses detoksifikasi, maka akan ada saat di mana kulitmu benar-benar selesai membuang racunnya. Lamanya memang berbeda-beda, ada yang hanya beberapa hari, berminggu-minggu, bahkan saya pernah dengar cerita teman saya yang baru cocok menggunakan SK II setelah 6 bulan pemakaian. Hmm.. kalau itu PR banget ya. Tapi, umumnya, purging hanya berkisar 1 sampai 2 minggu. Jerawat yang munculpun biasanya di tempat-tempat yang memang biasa tumbuh jerawat. Selama 2 minggu tersebut, biasanya ritmenya dari mulai beruntusan sedikit, lalu menjadi jerawat, sampai akhirnya jerawat mulai terasa mengering dan mengecil, lalu menghilang. 

Sedangkan break out, kadang muncul di tempat yang gak terduga. Yang biasanya saya gak pernah jerawatan di dagu, loh kok tiba-tiba bisa jerawatan di sana. Semakin hari bukannya semakin kering, tapi kulit semakin gradakan. Break out terkadang menyerang seluruh bagian wajah, beda dengan purging yang hanya di spot-spot tertentu. Jadi, kalau kamu merasa produk skincare yang kamu gunakan selama berminggu-minggu menimbulkan jerawat tanpa ada tanda-tanda pengeringan jerawat, bisa jadi itu break out.

2. Kenali jenis jerawat purging dan break out
Perbedaan Purging dan Break Out Anisa Firdausi
Ini mungkin gak terjadi pada semua orang. Tapi yang saya alami, ada perbedaan jerawat purging dan break out. Sebetulnya ini merupakan keuntungan bagi saya, karena bisa dengan cepat menyimpulkan jerawat yang muncul. Biasanya, saat saya mengalami purging, yang muncul adalah beruntusan yang berkembang menjadi pustule (jerawat yang terlihat putih-putih di dalamnya), lalu berakhir kering dan menghilang. Sedangkan jerawat yang saya alami saat purging adalah jerawat papule, jerawat sedang yang berwarna merah, tapi gak pernah berkembang menjadi jerawat yang lebih besar, tapi juga gak mengecil. Jadi berminggu-minggu gak ada perubahan ukuran, kecuali hanya bertambah banyak. Uniknya, seperti yang tadi saya bilang, tiap orang memunculkan reaksi yang berbeda. Bahkan saya sering baca artikel bahwa pada kebanyakan orang, jerawat break out itu lebih besar-besar dibandingkan purging. Tapi, yang terjadi pada kulit saya, justru sebaliknya.

3. Kenali kandungan pada skincare

Perbedaan Purging dan Break Out Anisa Firdausi
Beberapa skincare memiliki bahan aktif di dalamnya, seperti AHA, BHA, vitamin C, retinoid, dan bahan exfoliator lainnya. Bahan-bahan tersebut termasuk bahan yang sangat mungkin memicu terjadinya purging. Contohnya, mungkin kalian sering dengar tentang pengalaman orang-orang yang memakai vitacid (retinoid). Hampir semua orang mengalami purging, begitupun yang saya alami. Saya pernah menggunakan vitacid dan terima nasib muka jerawatan parah selama 2 minggu, lalu tepat di minggu ketiga, muka saya betul-betul halus dan kinclong, gak menyisakan 1 jerawatpun. Sampai orang-orang sempat tanya saya ke klinik kecantikan mana, karena memang hasilnya semulus itu. Tapi, tentu saja, pengorbanannya juga besar. 

Akan tetapi, untuk produk skincare umum seperti moisturizer, seharusnya gak ada yang namanya purging. Biasanya saat jerawat semakin hari semakin banyak, ya saya langsung menyimpulkan kalau saya gak cocok dengan produk tersebut. Perjalanan panjang mencoba skincarepun membawa saya pada kesimpulan bahwa saya gak bisa cocok dengan produk apapun yang mengandung mineral oil. Mineral oil ini banyak ditemukan di produk-produk moisturizer, karena mineral oil memiliki fungsi menahan kadar air dalam kulit, agar kulit tetap lembap. Biasanya bahan ini akan sangat sempurna bagi kalian yang memiliki kulit kering, tapi tentu nggak buat saya. Minyak semakin gak kekontrol, pori-pori semakin besar, sehingga kotoran dan minyak wajah bercampur, lalu tentu aja, selamat datang jerawat!

Itu adalah 3 tips membedakan jerawat purging dan break out versi saya. Nah, untuk lebih jelasnya, kalian bisa belajar sedikit demi sedikit tentang bahan-bahan yang tertera dalam suatu skincare. Biasanya, kalau saya cocok dengan 1 bahan utama skincare, saya akan mencari produk-produk yang mengandung bahan tersebut. Biasanya sih, cara itu berhasil. Sejauh ini, saya selalu cocok dengan produk-produk berbahan dasar aloe vera. Jadi, biar aman, saya selalu mencari produk dengan kandungan tersebut. Siapa sih yang rela buang uang dan menghabiskan waktu menggunakan produk skincare yang malah bikin break out? Saya sih malaaaas.

Baca Juga : 6 Tips Memilih Skincare yang Tepat