REVIEW : Nyobain Produk-Produknya Iomi Beauty, Brand Lokal yang Vegan dan Cruelty Free

Beberapa waktu yang lalu, saya kedatangan paket dari satu brand kecantikan, Iomi Beauty. Saat pertama kali dihubungi oleh pihak Iomi, saya langsung bertanya-tanya tentang asal brand ini,  karena saya sempat intip-intip produknya, kok kemasan dan gaya penulisannya seperti brand-brand Korea. Tapi ternyata, Iomi ini adalah brand lokal. Menariknya, Iomi Beauty ini terlihat sangat concern dengan keamanan dan kelayakan produknya. Selain sudah terdaftar di BPOM, brand Iomi menyatakan di setiap kemasan produknya bahwa produk mereka vegan dan cruelty free.

Iomi Beauty ini mengeluarkan beberapa produk kecantikan, di antaranya sheet mask, pensil alis, dan matte liquid lipstick. Produk-produk seperti ini, menurut saya adalah produk yang mudah dan cepat diterima oleh masyarakat, karena hampir semua wanita ya pakai. Gak terkecuali saya. Sejujurnya, berapapun banyaknya lipstick yang saya miliki, saya akan selalu excited tiap liat produk lippen yang baru. Apalagi kalau produk lokal.

Review Iomi Beauty Anisa Firdausi

Semua produk Iomi akan saya ceritakan di 1 blogpost ini saja, biar efisien, singkat, padat, dan jelas. Jadi, kalian gak perlu cek-cek lagi di postingan lain. Semua produknya sebisa mungkin akan saya ulas dengan lengkap, kecuali maskernya yang mungkin akan saya ceritakan secara singkat karena pada dasarnya sheet masknya gak jauh berbeda dengan sheet mask pada umumnya.

Jadi, masker yang punya 5 varian ini, memiliki fungsi yang berbeda untuk tiap variannya. Essence atau serum yang ada di dalam maskernya betul-betul gak pelit alias buanyakkk banget. Jadi, kamu bisa pakai sisa essencenya ke bagian-bagian tubuh yang lain, misalnya leher, siku, lutut, kaki, tangan, yaa semau kamu aja. Dengan harga 22.000 dan essence sebanyak itu, menurut saya, kamu gak akan rugi kalau beli sheet mask ini.

Harga : 22.000
Nilai : 3/5

REVIEW IOMI BEAUTY BROW DEFINER TRIANGULAR EYEBROW PENCIL DARK BROWN

Setelah itu, saya ingin membahas tentang produk alisnya. Produk favorit saya di antara semuanya, yaitu . Ini adalah kali pertama saya pakai pensil alis yang gak diserut. Sejujurnya, dari dulu saya gak begitu peduli dengan bentuk pensil alis. Mau yang diserut, diputar, ataupun dioles, yaaa saya pikir hasilnya akan sama aja. Saya juga terlalu malas untuk coba produk baru dan juga bukan orang yang terlalu peduli sama alis. Bahkan gak ngalispun bagi saya gak masalah. Tapi, waktu pertama kali saya coba ini, saya merasa baru saja menghemat waktu dalam berdandan dan merasa "Where have you been, Nis? Sampai kau melewatkan produk alis semacam ini?


Pensil alis ini sangat-sangat memudahkan saya dalam membingkai alis. Biasanya kalau saya pakai pensil alis yang diserut, pasti ada bagian-bagian yang menyon. Selain memudahkan saya dalam membingkai alis, pensil alis ini juga punya warna yang oke. Kebetulan saya dapat shade dark brown, warna coklat dengan tone netral. Gak terlalu gelap, tapi juga gak merah. Betul-betul terlihat natural. Dengan harga hanya 50.000, menurut saya masih sangat terjangkau. Brow definer ini punya 3 warna lainnya selain dark brown, yaitu light brown, dark grey, dan natural black.

 

Eits, belum selesai. Ada satu hal lagi yang bikin saya jatuh cinta dengan brow definer ini dan bikin saya kepikiran untuk repurchase lagi, yaitu karena teksturnya yang pas. Gak terlalu keras, dan juga gak terlalu lunak. Sangat pas dan mudah dikontrol, apalagi dibantu dengan spoolie brushnya yang halus. Saya yang amatiran dalam menggambar alis, merasa tiba-tiba jadi jago ngalis kalau pakai ini.

Harga: IDR 50.000
Nilai : 4/5

REVIEW IOMI BEAUTY MATTE LIQUID LIPSTICK (POPPY PINK & SUNKISS)


Review Iomi Beauty Matte Liquid Lipstick Anisa Firdausi

Produk terakhir yang akan saya bahas adalah Matte Liquid Lipsticknya. Produk ini punya 6 shade, dari mulai Poppy Pink, Sunkiss, Hazel Nude, Peach Perfect, Ruby Red, dan Beet Me. Meskipun hanya 6 shade, menurut saya pemilihan warnanya cukup pintar. Warna-warna yang banyak orang pakai. Kebetulan saya dapat shade Poppy Pink dan Sunkiss.

Review Iomi Beauty Matte Liquid Lipstick Sunkiss Anisa Firdausi

Shade sunkiss ini sebenarnya tipikal warna yang sering saya pakai, warnanya orange dengan sedikit hint coklat. Masih masuk ke skintone sawo matang saya.

Review Iomi Beauty Matte Liquid Lipstick Poppy Pink Anisa Firdausi

Untuk shade Poppy Pink, sejujurnya ini bukan warna yang biasa saya pakai. Warnanya terlalu neon untuk dipakai di atas kulit saya yang gelap. Tapi mungkin, itu karena saya ngerasa gak PD aja. Buktinya, ada aja orang yang punya kulit sawo matang dan masih terlihat cantik dengan shade lipstick terang semacam ini, Nicki Minaj misalnya. Tapi ya...balik lagi ke preferensi ya. Tapi, begitu saya coba shade Poppy Pink ini sebagai blush on cream, warnanya cantik banget.
 
Review Iomi Beauty Matte Liquid Lipstick Anisa Firdausi

Seperti lip cream matte pada umumnya, liquid lipstick ini punya hasil akhir matte. Punya coverage yang lumayan bisa menutup garis hitam di bibir. Tapi tentu saja, yang namanya liquid lipstick atau lipcream matte, punya efek membuat garis bibir terlihat jelas. Begitupun dengan produk ini. Produk ini akan meperjelas tekstur bibir. Jadi, saya sangat gak merekomendasikan kamu untuk pakai produk semacam ini tanpa menggunakan lipbalm, apalagi ketika bibirmu sedang kering atau pecah-pecah. Karena tanpa lipbalm, liquid lipstick ini malah bisa memperjelas tampilan bibirmu yang kering dan memberikan kesan bibir yang tidak sehat.

Harga : IDR 65.000
Nilai : 3/5 

Nah, di bawah ini adalah FOTD saya menggunakan semua produk Iomi Beauty tanpa menggunakan brand ataupun produk lain. Tanpa foundation, tanpa eyeliner, maskara, tapi ternyata bisa kelihatan lumayan fresh, walaupun mata panda masih terlihat dengan jelas. Dengan 3 produk saja, saya bisa dapetin alis yang "berbentuk", pipi merona, dan bibir yang cerah, ditambah lagi dengan harganya yang terjangkau. Penasaran di mana belinya? Kamu bisa dapetin produk-produk Iomi Beauty di websitenya, atau di instagramnya Iomi Beauty! Psst.. Mereka sering adain diskon lho! Thank me later!

Review Iomi Beauty Anisa Firdausi

Halaman Terakhir : Tentang Pringsewu, Lampung

Dari kecil, saya benci yang namanya perpisahan. Bahkan berpisah dengan hal yang saya bencipun kadang membuat saya gak nyaman. Aneh kan? Terbiasa dengan satu hal dan tiba-tiba harus memulai hal yang baru lagi adalah satu hal yang asing. Makanya, saya ini termasuk orang yang sangat senang menyimpan kenangan, dalam bentuk apapun. Foto-foto sih udah biasa, tapi saya kerap menyimpan barang-barang yang berhubungan dengan masa-masa tertentu, misalnya kartu ujian praktek SMP, name tag selama OSPEK kala SMA dan saat memasuki universitas, bahkan dulu saya pernah menyimpan baik-baik uang 5.000 yang saya dapat dari gebetan saya semasa SMP. Freak emang. Makanya waktu kecil juga saya sering dibilang cengeng atau mellow, saya pernah galau berhari-hari karena suatu hari Ibu menjual kulkas di rumah dan menggantinya dengan yang baru.
Tapi khusus kali ini saya akan menulis dan bercerita, dalam rangka menyimpan kenangan saya, untuk kelak saya bagikan pada anak dan cucu saya (Insya Allah). Kenangan yang saya tulis ini, tentang pengalaman 1 tahun berada di Pringsewu, salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung, provinsi yang terkenal dengan kain tapisnya.

 

Beberapa minggu sebelum menikah, suami saya bilang kalau surat mutasinya sudah keluar. Ia ditugaskan di Pringsewu, Lampung. Suami sempat minta maaf karena harus membawa saya ke luar Jawa, meskipun sebenarnya ia gak memaksa saya untuk ikut. Tapi, tentu, saya tahu ia ingin. Makanya, di hari pernikahan, supervisor saya laporan ke bos besar, bahwa nampaknya saya harus berhenti bekerja. Bos besar sempat menawarkan agar sayapun mutasi ke kantor cabang Lampung. Tapi masalahnya, kantor saya di Lampung berada tepat di tengah kotanya, sedangkan suami saya di Kabupaten Pringsewunya. Jarak keduanya gak kurang dari 40 km, oleh karena itu dengan berat hati saya menolak tawaran bos besar.

Pemilihan rumah kontrakan saya serahkan pada suami. Beberapa kali saya ditawarkan rumah-rumah kontrakan oleh rekan kerja saya, tapi seringkali saya merasa gak cocok saat melihat fotonya. Kebanyakan terlihat terlalu besar untuk dihuni oleh 2 orang, sisanya lagi kebanyakan bersebelahan dengan kebun-kebun yang luas dan pohon-pohon besar. Dua duanya saya tolak dengan alasan yang sama, karena saya merasa seram. Fakta bahwa saya akan lebih sering sendirian di rumah, membuat saya berpikir bahwa saya butuh rumah kontrakan yang gak terlalu besar dan dikelilingi oleh rumah juga, bukan kebun. Karena tentu saya lebih suka berkomunikasi dengan manusia, bukan nyamuk.

Akhirnya, suami berhasil menemukan 1 rumah, terletak di dalam 1 kavling kecil yang berisi 5 rumah, blok A sampai E. Beruntungnya saya, karena kebetulan masih ada 1 rumah yang kosong, rumah yang blok E. Harga sewanya termasuk di atas rata-rata harga sewa rumah kontrakan Pringsewu. Tapi saya maklum, rumah ini termasuk rumah baru, tipe-tipe rumah zaman sekarang. Lokasinya pun hanya 5 menit dari kantor suami. Akhirnya karena kami berdua merasa cocok dengan rumah ini, suami segera menyewa rumah tersebut hingga 1 tahun ke depan.

Cerita tentang Pringsewu Lampung Anisa Firdausi

Minggu-minggu pertama di rumah kontrakan kebanyakan saya lewati dengan berbelanja perabotan rumah, mendekor ruangan-ruangan agar kami merasa nyaman dan merasakan yang namanya rumah, bukan sekedar tempat singgah sementara. Awalnya, gak terasa berat sama sekali, karena masih banyak hal-hal yang saya kerjakan di rumah. Tapi satu hal terjadi saat saya menginjak bulan ketiga. Rasa bosan dengan rutinitas yang ada, kerinduan dengan pekerjaan kantor, juga rindu akan segala sesuatu tentang Bandung, bikin saya sering galau dan mengeluh pada sahabat saya. Kadang saya juga mengadu pada suami, kalau saya kesepian saat ia sedang bekerja. Suami sempat beberapa kali menawarkan saya untuk kembali ke Bandung saja, daripada saya tersiksa. Tawaran suami sempat saya pertimbangkan, tapi kok ya saya ngerasa cemen dan cupu banget sama tantangan hidup. Masih ingat kan pepatah "If you don't like things are, change it! You're not a tree!" ? Nah, pepatah itu juga yang bikin saya sadar, bahwa tugas saya lah yang harus mengubah rutinitas saya menjadi gak membosankan, bukan malah pergi dan menghindar.

Mula-mula, saya mulai mengaktifkan kembali blog ini. Blog ini sudah berjalan 5 tahun, tapi gak pernah ada progress yang signifikan karena jarang saya update. Apalagi alasannya kalau bukan tentang sibuknya pekerjaan di kantor yang gak menyisakkan waktu luang. Oleh karena itu, saya berjanji untuk membuat progress yang signifikan, dan alhamdulillah terbayar dengan total pageviews yang meningkat menjadi 2x lipat dan beberapa tawaran kerja sama dengan beberapa brandpun mulai bermunculan hingga saat ini. Target saya masih jauh dari situ, kualitas dan kuantitas artikel perbulannya pun masih perlu diperbaiki, tapi seenggaknya, ada kemajuan lah.

Selain itu, saya juga membuat schedule tiap harinya, yang tentu sering saya langgar. Tapi kan namanya usaha, walaupun gak sesuai jadwal, seenggaknya saya punya garis besar hari ini apa yang akan saya lakukan. Akses social media sangat sangat membantu kegiatan saya di sana. Kalian tau apa yang saya lakukan? Saya belajar masak, berlatih Bahasa Inggris, belajar sejarah, biologi, dan psikologi tentunya, semuanya dari youtube. Oleh karena itu, makasih Pak Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim, dan para pembuat konten, yang membuat hidup saya terasa jauh lebih mudah di Pringsewu.

Sebelum saya pindah ke Pringsewu, saya sempat membayangkan akan banyak menghabiskan aktivitas di luar rumah. Pergi ke pengajian dengan tetangga, pergi ke tukang sayur, mengobrol dengan tetangga di depan rumah ala ibu-ibu komplek, tapi ternyata semua hanya angan-angan saja. Cuaca panas yang gak santai, bikin saya dan para tetangga merasa lebih nyaman berada di dalam rumah. Ada kalanya kami mengobrol di halaman rumah pada pagi atau sore hari, tapi kalau siang hari, kami lebih nyaman ngadem di dalam kamar berAC.

Tapi, gak semua hal dari Pringsewu terasa membosankan. Sebutlah pemandangan hamparan sawah di pagi hari dengan kabut yang tebal karena udara yang masih minim polusi karena kendaraan bermotor yang gak sebanyak di Bandung. Juga, saya selalu menikmati pemandangan sunrise maupun sunset di Pringsewu, 2 hal yang gak pernah mengecewakan, kan? 

Cerita tentang Pringsewu Lampung Anisa Firdausi
 Cerita tentang Pringsewu Lampung Anisa Firdausi
Cerita tentang Pringsewu Lampung Anisa Firdausi 

Ada lagi satu hal yang pasti akan saya rindukan. Perjalanan melintasi laut dengan menggunakan kapal laut. Tidur di kamar yang disediakan untuk beristirahat selama perjalanan, menikmati pemandangan laut di siang hari, mengamat aktivitas yang orang-orang lakukan di kapal, dari mulai penjual makanan sampai tukang pijat keliling.

Cerita tentang Pringsewu Lampung Anisa Firdausi

Balik lagi ke rutinitas di Pringsewu, waktu bebas dengan aktivitas yang "semau gue" memang sulit dijalani dan terasa membosankan kalau saya gak punya tujuan. Tapi, selama saya punya banyak hal yang ingin dipelajari dan dikejar, rasanya 1 hari berlalu dengan cepat. Gak kerasa, tiba-tiba suami udah pulang aja. Bahkan, semenjak tinggal di Pringsewu saya mulai senang bermain dengan tumbuhan, mulai paham cara menyemai biji-biji sayuran dan buah-buahan. Ha!

Cerita tentang Pringsewu Lampung Anisa Firdausi 

Jadi, saya berasumsi, setiap langkah baru, setiap perpindahan dan perpisahan ini semacam blessing in disguise, pasti ada hal positif yang bisa saya dapatkan dibalik semua ini. Sebetulnya bisa banget saya mengeluh lelah dengan flow ini, tapi saya juga bisa memilih untuk tetap bersyukur.

Akhir cerita, dibalik semua kegalauan dan kerinduan pada Bandung kala itu, dibalik rindunya akan tempat hiburan dan makanan enak di Bandung, dibalik keluhan yang saya ucapkan setiap listrik mati, terima kasih Pringsewu, telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Semuanya menyenangkan, suatu saat mungkin kita akan dipertemukan kembali! 

Tertanda,
Penghuni rumah melati.

Cerita tentang Pringsewu Lampung Anisa Firdausi

Pindahan Anti Ribet dengan Kargo.co.id

Pertama kali saya ngontrak rumah di Pringsewu, Lampung, saya sudah tau kalau saya dan suami gak akan tinggal di sana dalam waktu lama. Ya, paling lama 3 tahun lah. Jadi, saya selalu galau untuk membeli perabotan rumah. Bingung, gimana nasibnya nanti ketika kami harus pindahan. Kebayang ribetnya kayak apa. Tapi kalau ngebiarin rumah kosong melompong tanpa perabotan, kok ya rasanya kaya bukan rumah. Jadi, ujung-ujungnya, kam tetap membeli beberapa perabotan yang menurut kami penting, kulkas, lemari, rak buku, meja belajar, sofa, kasur, dan beberapa perabot lain yang ukurannya gak seberapa. Masalah pindahan nanti, kami pikir.. ya.. gimana ntar aja.

 

Benar saja, tepat 1 tahun kami tinggal di sana, suami dapat kabar mutasi ke Sleman, Jogja. Surat mutasi baru diterima suami di tanggal 31 Maret 2019, dan mulai ditugaskan di Sleman pada tanggal 15 April 2019. Jadi kami hanya disediakan waktu 2 minggu untuk beres-beres dan pindahan. Belum lagi, ternyata 1 minggu terakhir, suami harus meeting di Bandar Lampung, yang artinya waktu pindahan saya dipersingkat hanya 1 minggu saja. Di suratnya juga tertulis, bahwa tidak boleh ada penundaan. Jadi, suami gak bisa minta perpanjangan waktu untuk hal apapun.

Pertama kali dengar kabar itu, tentu kami senang karena akhirnya kami kembali ke Pulau Jawa, tapi juga pusing memikirkan hal-hal yang harus kami urus untuk pindahan ini. Ada 2 opsi yang bisa kami lakukan dengan perabotan-perabotan di sini. Yang pertama, menyewa truk untuk pindahan, dan yang kedua, menjual semua perabotan ke penduduk sekitar.

Masalahnya, untuk opsi pertama, saya sama sekali gak punya informasi tentang truk untuk pindahan di sini. Betul-betul gak ada informasi sama sekali. Kalaupun ada, saya membayangkan tarifnya yang selangit. Saya ingat waktu kakak saya pindahan dari Jakarta ke Bandung, tarifnya 2 juta. Sesekali saya cek iseng di beberapa website, tarif pindahan dengan Colt Diesel mencapai 7 juta, bahkan banyak yang memasang harga di atas itu. Sedangkan opsi kedua, kendalanya adalah di waktu. Dalam waktu 1 minggu, apa saya bisa jual perabotan-perabotan ini? Lantas, kalau nanti ada yang gak kejual, mau diapain? Pusingnya malah 2x lipat.

Saya, suami dan akuntan pribadi saya, Markonah, akhirnya menghitung harga total perabotan, melihat untung ruginya. Opsi pertama akan menjadi untung jika biaya pindahan di bawah 5 juta. Sedangkan, jika biaya di atas itu, lebih baik dijual saja. Setelah itu, saya mencoba mencari jasa-jasa truk pindahan, tentu saja, hal pertama yang saya lakukan adalah googling, mencari jasa pindahan Lampung - Bandung, karena kami memutuskan untuk menyimpan perabotan di Bandung. Banyak sekali informasi yang saya dapatkan, tapi gak ada yang jelas selain satu website dengan alamat www.kargo.co.id

Apa itu kargo.co.id? 
Jadi, ini adalah sebuah marketplace logistik truk antar kota, antar pulau di Indonesia. Mulai dari Engkel, Colt Diesel, Fuso, Wingbox, Tronton, Cargo hingga Kontainer. Mereka punya banyak vendor di dalamnya yang bisa kita pilih. Berikut langkah-langkah penggunaan kargo:
  1. Masuk ke laman www.kargo.co.id
  2. Klik "Cek Tarif" di bagian atas web
  3. Isi data yang diminta, berupa pindahan dari mana ke mana, dan jasa apa yang dibutuhkan
  4. Akan keluar estimasi biaya, dengan beberapa opsi kendaraan
  5. Isi form pengiriman barang dengan lengkap (barang-barang apa yang akan diangkut, berapa harga barang yang akan diangkut, dll)
  6. Setelah formulirnya terisi dengan lengkap, data saya langsung terpampang di website kargo
Setelahnya, saya hanya menunggu. Formulir yang saya isi, ternyata langsung dilihat oleh vendor-vendor kargo. Mereka akan memberikan penawaran harga yang beragam. Kebanyakan vendor bahkan langsung menghubungi saya secari pribadi melalui Watsapp. Awalnya saya ragu, karena kargo gak bertanggung jawab jika vendor melakukan penipuan. Tapi, vendor-vendor yang terdaftar di kargo sebetulnya sudah memiliki surat-surat izin usaha yang lengkap, sehingga meminimalisir terjadinya penipuan.

Setelah saya berkomunikasi dengan beberapa vendor, akhirnya pilihan saya jatuh kepada Deska Trans. Deska Trans ini saya pilih karena responnya sangat cepat dan informatif. Saya berkali-kali meminta data, seperti foto KTP, SIM driver beserta STNK nya, dan semua diberikan dalam waktu yang singkat. Harganyapun termasuk terjangkau jika dibandingkan dengan vendor yang lain. Adminnya, Mbak Fitri, sangat kooperatif dan fleksibel terkait jadwal pindahan yang belum pasti. Beliau bilang gak masalah jika ada perubahan jadwal, yang penting diinformasikan sehari sebelumnya. Nah, untuk sistem pembayarannya 50% pada saat barang diangkut, sisanya 50% pada saat barang sudah sampai tujuan.

Sesampainya di Pringsewu, sang driver langsung menghubungi saya. Drivernya, Mas Fajar, pun sangat kooperatif. Orangnya ramah dan suka bercanda. Awalnya saya gak tega waktu malam-malam dia mulai mengangkut perabot-perabot yang besar, terutama saat mengangkut sofa bed. Meskipun dibantu oleh tukang angkut dan suami, mengangkut sofa bed tetap terasa sulit. Karena salah posisi sedikit saja, sofanya langsung terbuka menjadi kasur. "Ni kursi nggaweni", celetuk Mas Fajar sambil tertawa.

Setelah semua barang diangkut, mereka gak langsung menuju ke Bandung, tapi  bermalam dulu di Jakarta, dan akan mulai berangkat besok siangnya. Semua sudah diperhitungkan, agar truk sampai di Bandung pada malam hari, sesuai dengan jadwal keberangkatan saya dan suami. Intinya biar kita sampai di waktu yang bersamaan.

Esoknya, kami berangkat menuju Bandung. Selama perjalanan, Mas Fajar selalu menginformasikan lokasinya, sehingga kami sampai bersamaan di malam hari, tepat sesuai rencana. Semua perabotan sampai dengan selamat, tanpa lecet sedikitpun. So, terima kasih Kargo, dan terutama Deska Trans, yang membuat pindahan ini gak serumit yang saya bayangkan!

REVIEW : Fanbo Beauty Blender, Beauty Sponge Berkualitas dengan Harga Terjangkau

Saya seneng deh waktu banyak produk lokal yang ngeluarin produk beauty sponge. Inget gak waktu dulu, jaman-jamannya beauty sponge yang bagus cuma yang harganya 200.000 itu? Ada sih yang lebih murah, tapi kualitasnya uh banget, bikin kulit wajah serasa lagi ditampol-tampol pake ban mobil. Keras! Pertama kali saya beli beauty sponge brand luar, saya awet-awet dan malah jarang dipakai karena sayang, takut cepat rusak,kan sedih kalau harus beli lagi. Tapi yo ngapain juga udah beli sponge terus cuma didiemin dalam boxnya aja?

Alhamdulillah, akhirnya, brand-brand lokal mulai sadar akan betapa pentingnya beauty sponge, sehingga mereka mulai mengeluarkan produk-produk beauty sponge. Salah satunya Fanbo. Setelah sukses dengan Perfect Bounce Beauty Sponge mereka yang warnanya pink itu, kini Fanbo mengeluarkan beautu sponge baru dengan beragam bentuk. Dikemas di dalam box yang bergambar binatang yang super cute, beauty sponge ini sengaja dibuat dengan bentuk yang berbeda-beda, karena fungsinya memang ditujukan berbeda.

Review Fanbo Perfect Bounce Beauty Blender Anisa Firdausi

Meskipun harganya hanya 33.500 saja, kualitas spongenya bukan abal-abal. Bahannya cukup empuk, dan pada kemasannya jelas tertulis kalau produk ini latex free, non-allergenic, odor free, anti bacterial, dan no loose particle.  Kalau dilihat dari klaimnya sih, harusnya produk ini bakal enak banget dipakai dan tentunya aman digunakan.

Review Fanbo Perfect Bounce Beauty Blender Anisa Firdausi

Pada tiap kemasannya, tiap bentuk memiliki fungsi yang berbeda. Penjelasannya sangat detail, fungsi tiap sisi pada tiap spongepun dituliskan. Tapi, gimanapun juga, kalau saya pakai beauty sponge sih biasanya random aja. Selama enak dipakai, ya bisa saya pakai untuk apa saja. Gak melulu harus mengikuti aturan kan. Hehe.

Review Fanbo Perfect Bounce Beauty Blender Anisa Firdausi
Seperti yang juga ditulis pada kemasaanya, beauty sponge ini lebih enak digunakan dalam keadaan lembap/ setengah basah. Saat terkena air, spongenya bisa mengembang 1,5x lipat nya. Teksturnya pada saat lembap, lebih enak dipakai. Lebih lembut dan empuk. Make up lebih mudah nempel dan diratakan. 

Review Fanbo Perfect Bounce Beauty Blender Anisa Firdausi 
Review Fanbo Perfect Bounce Beauty Blender Anisa Firdausi
 
Saya sudah beberapa kali memakai beauty sponge ini, rasanya nyaman dan gak terasa keras sama sekali. Menurut saya, dengan harga 33.500 sih, produk ini wajib banget kamu punya. Dijamin, gak akan nyesel. Atau kamu punya rekomendasi beauty sponge lain, yang murah tapi berkualitas? Let me know ya!

REVIEW : Wardah Aloe Hydramild Serum, Apa Bedanya dengan Aloe Vera Gel?

Berbekal pengalaman positif setiap menggunakan produk Wardah yang memiliki embel Aloe Vera, terutama Hydramild Moisturizernya yang harganya 18.000 itu, saya tertarik mencoba serumnya. Di antara produk-produk dengan kandungan alami lainnya, produk yang memiliki kandungan aloe vera selalu berjodoh dengan kulit sensitif saya. Selain melembapkan, saya merasa aloe vera ini mampu mengatasi masalah kulit tanpa menimbulkan masalah baru. Saya sempat mengalami beruntusan, jerawat, kulit kering, dan semuanya selalu terobati dengan produk-produk yang mengandung aloe vera

Review Wardah Aloe Hydramild Serum Anisa Firdausi

INFORMASI PRODUK

Wardah Nature Daily Aloe Hydramild Serum
Produced by PT Paragon Technology and Innovation
Industri Road IV Blok AF No 18
Jatake Industrial Area
Tangerang-Indonesia
NA18180101944

KEMASAN

Review Wardah Aloe Hydramild Serum Anisa Firdausi

Di dalam boxnya, terdapat 5 ampoule yang masing-masing berisi 5 ml cairan serumnya. Harga 1 box ini 47.5000, sehingga jika dibagi rata, 1 ampoule ini harganya 9.500 lah. Kemasannya dari botol plastik seukuran jari saya. Jadi, enak banget kalau dibawa buat travelling, gak akan ngabisin tempat.

KLAIM

 Review Wardah Aloe Hydramild Serum Anisa Firdausi

Melalui penelitian yang mendalam, kini Wardah  telah berhasil menggabungkan kekuatan bahan aktif Aloe vera untuk bantu proses hidrasi agar kulit normal cenderung kering tetap lembap dan terasa halus. Serum ringan dan mudah diserap oleh kulit ini secara khusus diformulasikan dengan:
  • Hydramild Aloe Vera Extract : Ekstrak Aloe Vera organik yang dikenal memberikan efek menenangkan dan melembapkan.
  • Vitamin E: Vitamin E dipercaya bantu melembapkan kulit dan melindungki kulit dari radikal bebas.
  • Hyaluronic Acid: Bahanaktif yang dikenal bantu menjaga elastisitas dan kelembapan kulit
CARA PAKAI

Oleskan merata pada kulit wajah dan leher yang telah dibersihkan. Gunakan sebelum pelembap dan bersama rangkaian produk Wardah Aloe lainnya untuk hasil yang maksimal. Hindari kontak daerah mata.

KANDUNGAN

Aqua, Glycerin, Butylene Glycol, Phenoxyethanol, Propylene Glycol, Ammonium Acryloyldimethyltaurate/ VP Copolymer, Panthenol, Aloe Barbadensis (Aloe Vera) Leaf Extract, PEG-40 Hydrogenated Castor Oil, Trideceth-9, Tocopheryl Acetate, Triethylene Glycol, Sodium Hyaluronate, Fragrance, Polysorbate 20, Potassium Sorbate, Sodium Benzoate.

TESKTUR, WARNA, DAN AROMA

Review Wardah Aloe Hydramild Serum Anisa Firdausi

Untuk ketiga komponen ini, saya bisa bilang agak meyerupai aloe vera gel pada umumnya. Bedanya, saat diaplikasikan, serum yang terasa seperti gel ini langsung luruh seperti air. Warnanya tentu bening, dengan sedikit aroma aloe vera.

HASIL PEMAKAIAN

Awal pemakaian saya langsung merasa serum ini cukup mudah menyerap dan sama sekali gak meninggalkan kesan lengket pada wajah. Ini adalah perbedaannya dengan aloe vera gel. Jika aloe vera gel memiliki tekstur yang lebih kental, butuh waktu untuk menyerap, dan sedikit meninggalkan kesan lengket, serum ini sebaliknya. Setelah serum sudah terserap kulit, sama sekali gak ada sensasi lengket, tapi efek lembapnya sangat terasa. 

Review Wardah Aloe Hydramild Serum Anisa Firdausi

Sejauh ini, saya sudah menghabiskan 3 ampoule selama  kurang lebih sebulan. Saya pakai pagi dan malam hari setelah penggunaan toner.  Seperti yang saya duga, saya gak pernah ada masalah dengan produk berbasis aloe vera. Sesuai dengan klaimnya, produk ini betul-betul membuat kulit saya merasa terhidrasi. Walaupun serum ini ditujukan untuk kulit kering, tapi saya yang punya kulit super berminyak gak merasa kulit saya semakin berminyak. 

Sebetulnya sih ya, karena kulit saya sudah cukup lembap, saya gak perlu serum ini. Saya cuma penasaran aja dengan serum ini, sekaligus melangkapi langkah-langkah rutinitas skincare saya. Ya, biasanya saya sering skip serum kalau merasa kulit baik-baik saja.

Review Wardah Aloe Hydramild Serum Anisa Firdausi

Jadi, kalau ditanya hasil pemakaian selama 1 bulan, saya bisa bilang produk ini memang bikin lembap.  Tapi, karena memang saya gak punya masalah kulit kering, dengan atau tanpa menggunakan serum inipun gak ada perbedaan yang signifikan. Jadi, terus terang saja, saya gak merasa harus punya serum ini sebagai salah satu step skincare saya. Bahkan, saya merasakan efeknya sedikit mirip dengan ketika saya menggunakan aloe vera gel. Tapi kan tetap, buat kulit saya yang mudah berjerawat, produk yang gak menyebabkan beruntusan atau jerawat, sudah masuk kategori skincare yang oke.

Kelebihannya lagi, meskipun 5 ml terkesan sedikit, tapi saya hanya membutuhkan 2 tetes saja untuk seluruh wajah. Jadi, untuk ampoule seharga 47.000 ini saya rasa bisa bertahan hingga 2 bulan. Cukup ekonomis bukan untuk ukuran serum?

KESIMPULAN

+ Membuat kulit lembap
+ Gak bikin lengket
+ A little goes a long way
+ Mudah ditemukan
+ Harga terjangkau
+ Kemasan travel friendly
+ Aromanya samar, gak menyengat
+ Gak menimbulkan reaksi negatif seperti beruntusan atau jerawat 
+ Diformulasikan untuk kulit kering, tapi malah pas di kulit saya yang berminyak

- Kelembapan yang dihasilkan gak terlalu signifikan, mungkin bagi yang memiliki kulit kering akan kurang puas dengan kelembapannya

Harga : IDR 47.500
Nilai : 3.5/5