REVIEW : LACOCO Intensive Treatment Eye Serum, Serum Rasa Botox

Di penghujung usia 20 ini, saya mulai panik dengan kerutan-kerutan tipis yang muncul di kulit wajah, terutama di daerah sekitar mata. Saya yang menghabiskan banyak waktu di depan layar TV, laptop, maupun HP, seringkali merasa bersalah saat menyaksikan kulit sekitar mata yang menggelap dan memunculkan garis-garis halus ini. Tapi, saya juga gak mungkin menghapus kegiatan mantengin layar, karena ya... susah. Maka dari itu, solusi satu-satunya adalah dengan memberikan treatment khusus pada penuaan kulit di sekitar mata ini. 

Botox? Seandainya saya punya mesin pencetak uangnya Doraemon, mungkin akan saya coba. Tapi bahkan Botoxpun bukan solusi permanen. Walaupun hasilnya instan, treatment penghilang kerutan ini hanya bertahan selama kurang lebih 4 bulan. Saat efeknya habis, ya kerutan akan kembali dadah-dadah. Ugh.

Tapi tenang, akhirnya saya menemukan produk ajaib penghilang kerutan yang benar-benar berfungsi dengan baik, yaitu Lacoco Intensive Treatment Eye Serum.

 
INFORMASI PRODUK

Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum
Manufactured by PT LF BEAUTY INDONESIA Jakarta - Indonesia
For PT AVO INNOVATION TECHNOLOGY
DI Yogyakarta - Indonesia
NA18180101558

KEMASAN
 

Coba deh, saya tanya, apa kesan pertama saat kalian lihat kemasannya? Pasti gak akan jauh-jauh dari luxury, mewah, kelihatan seperti produk mahal, mengira ini produk luar. Iya gak? Soalnya, itu yang saya pikirkan pertama kali saya lihat produk ini. Tapi ternyata, ini adalah produk lokal. Saya sampai terharu bangga, Indonesia makin mantap bikin produk-produk skincarenya.

KLAIM

 

Serum untuk mata yang membantu mengurangi kerutan halus dan mencegah tanda penuaan pada kulit sekitar mata. Mengandung bahan aktif peptide yang dapat membantu mengurangi garis-garis halus pada wajah. Mengandung lidah buaya untuk menjaga kelembapan kulit sekitar mata. Dilengkapi dengan ekstrak apel yang berfungsi sebagai anti oksidan. Dapat digunakan sebelum make up. Cocok untuk semua jenis kulit.

CARA PAKAI

Aplikasikan di bawah mata dan kelopak mata menggunakan jari manis. Ratakan secara perlahan tanpa menekan kulit. Gunakan pagi dan malam hari.

KANDUNGAN

Water, Butylene, Glycol, Glycerin, Palmitoyl Hexapeptide-12, Triethanolamine, Carbomer, Pyrus Malus (Apple) Fruit Extract, Phenoxyethanol, Aloe Barbadensis Leaf Juice, Polyglutamic Acid, Ethylhexylglycerin, Tetrasodium EDTA, Fragrance

Kalau saya amati, kandungannya gak terlalu kompleks, mungkin tergolong sedikit untuk suatu skincare. Tapi justru saya suka, karena lebih meminimalisir terjadinya alergi di kulit yang sensitif. Fragrancenya pun diurutan terakhir. Mantap!

TEKSTUR, WARNA, DAN AROMA



Teksturnya gel bening, sangat mirip dengan tekstur aloe vera gel tapi lebih ringan. Nah, walaupun di daftar kandungannya, fragrance berada di urutan akhir, aromanya masih tercium. Tapiiiii... aromanya ini sama sekali bukan aroma yang mengganggu, bahkan ini adalah tipe wewangian yang saya suka, mirip wangi Moringa TBS, segar!

HASIL PEMAKAIAN

Sejujurnya, saya sudah pernah pakai beberapa eye serum. Dari brand-brand yang harganya sopan, sampai ke brand yang harganya bikin dompet teriak. Sejauh ini, efek yang saya dapatkan hanya sebatas efek jangka pendek, yaitu menyegarkan kulit mata yang terasa lelah, atau menghilangkan lingkaran hitam di sekitar mata, tapi kerutan-kerutan halus tetap terpampang nyata.


Jadi, waktu pertama kali produk ini datang, saya hanya sebata "Oh eye serum, lumayan lah.. buat ngelembapin kulit sekitar mata". Sampai akhirnya, saya lihat storynya Paola Tambunan yang bilang kalau doi amaze sama produk ini karena benar-benar membantu menghilangkan garis halus di kulit sekitar matanya. Saya masih ngerasa skeptis, "Masa sih? Ah itu mah emang dia gak ada garis halus dari dulu.. Mulus gitu mukanya.." Sampai akhirnya semua terasa jelas saat saya menggunakan produk ini.


Pertama kali saya pakai, saya senang dengan kemasannya yang gak bikin saya harus colak colek ke dalam jar. Tinggal pump, produknya keluar sebesar biji kedelai. Biasanya saya pakai untuk kedua mata, tapi kalau lagi serakah, satu pump saya pakai ke satu mata. Saya pikir, tekstur gel ini akan cepat menyerap, tapi ternyata walaupun teksturnya lebih ringan dari aloe vera gel, produk ini butuh waktu yang lama untuk menyerap. Saat sudah menyerap pun, masih meninggalkan sensasi basah atau sedikit lengket. Mungkin ini maksud dari melembapkan daerah mata. Sejujurnya, pengaplikasian eye serum ini sebelum memakai make up, membuat concealer lebih menempel dan gak pecah.


Serelah saya pakai produk ini selama sebulan, saya luar biasa kaget. Garis halus memendek sekitar 0,5 cm. Meskipun hanya sependek itu, menurut saya ini merupakan hasil yang sangat signifikan untuk sebuah eye cream. Untuk masalah lainnya, seperti lingkaran hitam di bawah mata memang gak ada perubahan, karena memang bukan fungsi dari Lacoco Intensive Treatment Eye Serum ini, fungsi utamanya kan sudah jelas, yaitu mengurangi kerutan dan garis halus di wajah. Saking ampuhnya eye serum ini, orang-orang menyebut Lacoco Intensive Treatment Eye Serum ini one botox in a bottle.


Selain garis halus yang berkurang, saya juga punya beberapa kesan positif lainnya dari produk Lacoco Intensive Treatment Eye Serum ini. Karena terbuat dari bahan-bahan yang aman, produk ini juga bisa digunakan oleh ibu hamil. Melihat hasil yang menyenangkan ini, rasanya saya ingin beli banyak untuk saya kasih ke ibu dan nenek saya. Masih ngaruh gak ya kira-kira?

KESIMPULAN

+ Kemasan oke banget!
+ Kandungannya simple
+ Aromanya enak, gak menyengat
+ Tekstur gel ringan 
+ Harga terjangkau dengan hasil yang memuaskan 
+ Kulit sekitar mata lebih lembap
+ Membuat concealer mudah menempel dan gak pecah

- Butuh waktu untuk menyerap

Harga : IDR 180.000 (15 ml)
Nilai : 4/5

Stop Thinking, Start Living

Ada banyak draft yang saya buat kala menulis tulisan dengan tema Big Life Decision ini. Jelas, karena mengambil keputusan besar dalam hidup itu bukan hanya sekali atau dua kali. Sepanjang saya berkolaborasi dengan Bandung Hijab Blogger, menurut saya tema kali ini adalah tema tersulit untuk ditulis. Saya berusaha keras untuk membuat tulisan ini tidak terlihat seperti diary anak SMA, tapi ternyata sulit. Jadi, tolong maklumi. Kalau kamu merasa geli membacanya, kamu bisa skip ke artikel lain ya!


Sejujurnya, saya bukan ahlinya dalam membuat keputusan. Kalau saya disebut-sebut kurang mandiri, saya juga gak bisa ngelak. Karena memang begitu adanya. Saya selalu dihadapkan pada perasaan galau dan takut saat memilih satu hal dan mengenyampingkan yang lainnya. Perasaan takut menyesal. Maka, biasanya, saya selalu minta opini orang lain. Tapi, beda dengan keputusan besar yang saya ambil 2 tahun yang lalu.

2 tahun yang lalu, akhir tahun 2016 adalah masa-masa yang kelam. Singkat cerita, saya memutuskan hubungan dengan pacar (yang 2 bulan berikutnya seharusnya akan menjadi suami) saya. Hubungan yang terjalin selama 7 tahun, berhenti di akhir tahun itu. Bukan hanya keputusan besar, tapi ini juga merupakan keputusan tersulit bagi saya. Gak ada orang ketiga, gak ada masalah besar, hanya kerikil-kerikil yang kerap orang bilang "cobaan yang mau nikah". Banyak orang yang berpendapat begitu kan? Semakin mendekati hari pernikahan, semakin banyak ujian untuk "naik kelas".

Tapi ada satu hal yang selalu menjadi pertanyaan saya, "Betulkah ini cobaan? atau ini petunjuk dari Tuhan kalau dia bukan jodoh saya?", bukankah Tuhan menyimpan banyak misteri? Bukankah Tuhan senang bermain teka-teki? Pertanyaan ini terus ada di benak saya selama 5 bulan sebelum hari pernikahan. Sampai akhirnya saya diamkan saja, menganggap itu hanya ulah setan. Tapi, entah kenapa, semakin sering saya meminta petunjuk Tuhan, kerikil-kerikil itu menjadi semakin banyak. Benar saja, 2 bulan sebelum menikah, pacar saya mengatakan suatu hal yang mengecewakan, yang bertentangan dengan rencana kami, yang membuat saya matang untuk mundur dari pernikahan ini.

Sebetulnya, bisa saja saya mengabaikannya. Pacar saya pun menginginkan untuk melanjutkan rencana pernikahan kami. Melupakan apa yang terjadi sebelumnya. Let it flow, biarkan terjadi apa adanya. Awalnya sayapun sempat berpikir seperti itu, namun setiap kali saya ingat akan hari di mana pacar saya mengecewakan saya, hati saya kembali sakit. Sampai akhirnya saya ingat bahwa manusia dianugerahi freewill, kehendak bebas. Bahwa sebetulnya, saya bisa memilih. Saya bisa membuat keputusan lain, bukan sekedar mengikuti alur saja. Juga seperti yang Jim Rohn bilang, "If you don't like things are, change it! You are not a tree!". Maka dengan penuh keyakinan, saya memberanikan diri untuk membatalkan semua rencana pernikahan kami.


Semudah itukah? Jelas nggak! Bagian tersulit adalah bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat. Bagaimana bertanggung jawab atas banyaknya hati yang tersakiti, hati saya, pacar, orang tua kami, orang-orang terdekat kami. Belum lagi jika bicara tentang vendor-vendor yang telah kami booking. Saya harus membatalkan dan merelakan sejumlah uang yang sudah keluar. Bulan-bulan itu saya lewati dengan rasa malu yang tiada tara. Menghindar dari orang lain hanya karena takut dan malas dengan pertanyaan seputar batalnya pernikahan.

Belum selesai di situ, sebagai seseorang yang pernah mempelajari ilmu psikologi, saya cukup bisa merasakan bahwa ada yang salah dengan diri ini. Saya mendadak insecure, punya masalah kepercayaan, meragukan perkataan orang. Sempat berkonsultasi dengan sahabat saya yang seorang psikolog Belanda, ia bilang kalau saya mengalami trauma akibat kejadian kemarin. Trauma karena dikecewakan oleh orang yang saya percaya selama 7 tahun. Akibatnya, saya kesulitan untuk menjalin hubungan baru dengan orang lain, yang ternyata menjadi masalah baru bagi saya.

Satu dua pria sempat datang, ketakutan itu selalu muncul. Pemikiran bahwa "orang yang dipercaya selama 7 tahun saja bisa mengecewakan, jadi saya butuh berapa tahun untuk percaya?" selalu terlintas. Sampai akhirnya K datang. Saya mengenalnya hanya beberapa bulan, lewat sepupu. Kami belum pernah bertemu, karena ia belum sempat ke Bandung. Jadi komunikasi kami hanya sebatas chatting dan telponan. Sempat beberapa kali memanggilnya "Kang", dia cuma ketawa geli. "Beda setahun doang, kaya anak ospek aja". Saya bukan termasuk perempuan yang peka dengan hal-hal yang berbau afeksi, tapi untuk perempuan seperempat abad, saya cukup bisa membaca tujuan seorang pria yang begitu intens berkomunikasi dengan perempuan, mengirim makan siang, memberikan bunga. Hal-hal semacam itulah.

K bukan tipe yang banyak bicara, bukan tipe yang senang berbalas pesan juga. Jarang berjanji, tapi jika ia melakukannya, ia menepatinya. Pria ini cukup aneh, bagi saya. Ia adalah pria pertama yang berani menemui Ayah sendirian, bahkan saat itu saya sendiri belum pernah bertemu dengannya. Kok bisa? Jadi suatu kali saya berbasa basi tentang betapa saya sukanya dengan pempek, dan akan sangat senang jika ia bisa membawakannya dari Palembang. Beberapa hari setelahnya, siang hari, saat saya masih di kantor, saya dikejutkan oleh pesan dari Ayah, "Ada teman Anis ke rumah ngasih pempek. Katanya teman Teh Echa juga". Ya, itu adalah pertama kali Ayah bertemu K, padahal saya sendiri belum pernah bertemu dengannya. Kesan pertama yang positif, bagi saya dan tentunya bagi Ayah juga.

Beberapa kali saya cerita dengan rekan kerja, keluarga, dan sahabat-sahabat saya tentang K, saya selalu menyelipkan pesan  bahwa K hanyalah sekedar teman saja, gak lebih. Lagipula, dia seorang auditor dengan wilayah kerja yang tak menentu. Sempat di Jakarta, Jombang, Palembang, dan kota-kota lainnya. Jika saya menikah dengannya, berarti saya harus ikut pindah-pindah kota dengannya, yang sulit diterima bagi saya. Saya termasuk anak rumahan, keluar kota hanya sesekali untuk perjalanan dinas dan gak pernah lebih dari sebulan. Intinya, memikirkan keluar dari Bandung, adalah sebuah hal mustahil bagi saya.

Satu hal yang menarik perhatian saya, K adalah pendengar yang baik. Tenang dan tidak tergesa-gesa adalah deskripsi yang tepat tentang pembawaannya. Ia bisa membaca kekhawatiran yang saya rasakan tentang menjalin hubungan baru. Oh, dia juga mendengarkan kisah pahit itu, dan tak sekalipun memberi intervensi, apalagi berkomentar negatif tentang mantan saya. Bahkan, dia sempat bilang bahwa betapa good looking dan pintarnya mantan saya, "Kalau aku cewek, mungkin aku juga bakal suka."
Saya tertawa, dia juga.

Sampai akhirnya 3 bulan berlalu. Ya, hanya berkisar 3 bulan, dia mengajak saya ke suatu tempat, ada yang ingin ia sampaikan. Itu adalah malam saat K melamar saya. Saya gak terlalu terkejut, karena dia memang pernah bilang kalau tujuannya mendekati saya adalah karena ia ingin saya menjadi pendamping hidupnya, tapi ia bilang kalau semuanya santai. Saya bisa menjawab kapanpun saya mau, kapanpun saya siap. Anehnya, pikiran-pikiran, kecemasan dan ketakutan saya tentang masa lalu itu, sama sekali gak terlintas. Anehnya, saya bisa menjawab saat itu juga. Anehnya, saya bisa seyakin itu. Padahal dengan saya mengiyakan, berarti saya sudah setuju tentang meninggalkan Bandung untuk waktu yang lama.


"Stop thinking, start living", kata-kata itu terus menerus terngiang di kepala saya.  Itu adalah keputusan besar lainnya, yang akhirnya membawa saya ke sini. Ya, sekarang saya sedang di Lampung dan sedang mengemas barang untuk pergi ke destinasi selanjutnya. Betul, saya merindukan Bandung, tapi di sini saya menemukan banyak hal baru. Bahkan saya merasa bisa lebih mengenal diri saya sendiri. Semuanya terasa asing, tapi juga seru dan menyenangkan. Lagipula, bukankah hidup baru dimulai saat kita keluar dari zona nyaman?

Sebelum selesai, ada satu hal ajaib yang ingin saya ceritakan. Saya selalu bercerita pada banyak orang bahwa K mengingatkan saya dengan Ayah, kakak, dan adik saya. Tipe pria yang tidak banyak bicara, pendengar yang baik, dan berpikiran matang. Mereka bilang, K adalah sosok yang saya butuhkan selama ini. Betul-betul tipe pria yang dapat diandalkan. Mereka juga bilang kalau Tuhan memang selalu memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan? Tapi hey, saya ternyata lupa, jauh sebelum kisah ini terjadi, saya sering meminta padaNya, untuk dipilihkan pasangan hidup, yang menyerupai kepribadian Ayah, kakak, dan adik. Jadi, kalau ini adalah semacam jawaban dari do'a saya bertahun-tahun yang lalu, Terima kasih Tuhan, sudah menjadi pendengar dan pengabul yang baik. Saya pikir, Ia memang selalu baik dan adil.

Mengobati Maag dengan YLEO Digize dan Stress Away

Epidemi essential oil masih berlangsung sampai saat ini. Saya masih sering lihat para influencer, terutama mom blogger, yang sering mengulas betapa menakjubkannya essential oil ini. Betapa hebatnya setetes Franckincense yang mampu meredakan batuk anak mereka. Pada awalnya, saya gak pernah tertarik dengan apapun bentuk pengobatan alternatif, termasuk salah satunya essential oil ini. Selain harganya yang bikin perut mules, saya selalu beranggapan kalau pengobatan ini hanya semacam efek placebo saja.

Essential Oil sebenarnya sudah ada dari zaman dulu kala. Zaman nenek moyang kita mana ada sanmol, mana ada promag. Mereka memanfaatkan tumbuhan-tumbuhan di sekitar, untuk mengobati segala penyakit. Sebetulnya, saya gak akan membahas panjang lebar mengenai sejarah EO, karena saya bukan pakarnya. Di sini saya hanya ingin berbagi cerita dan pengalaman selama menggunakan EO. Yah.. seperti review yang selama ini saya lakukan.

Intinya, saya gak pernah penasaran untuk coba-coba essential oil dari brand apapun. Tapi, semua berubah saat saya sudah lelah dengan penyakit asam lambung saya yang tak kunjung sembuh. Semua saran dokter selalu saya ikuti. Pola makan yang sedikit tapi sering, larangan makanan dan minuman ina inu, olahraga yang seimbang. Itu semua hanya mengurangi sedikit rasa sakit di lambung saya, tapi tidak menghilangkan sama sekali. Bosan dengan minum obat sepanjang waktu, karena saya selalu kesulitan untuk nelan obat. Entah kenapa obat tablet itu selalu nyangsang di langit-langit mulut dan sulit sekali tertelan.

Sampai akhirnya, sahabat saya nyeletuk, "Coba deh lu pakai YLEO yang digize, beb"

Seketika saya langsung cari-cari di Ecommerce dan langsung mendadak mules. Banyak brand yang mengeluarkan produk essential oil, YLEO adalah salah satu yang terkenal. YLEO ini banyak macamnya. Tiap varian punya manfaatnya masing-masing dengan harga yang variatif, dari mulai yang mahal, sampai ke yang mahal banget. Varian digize sendiri dikhususkan untuk masalah-masalah digestive. Khusus yang digize, harganya kisaran 500rb/ 15 ml. Lebih mahal dari Farsali Rose Gold Elixir, beb. Lihat harga yang fantastis, saya mundur teratur, saya mau cari informasi lebih banyak mengenai essential oil ini, supaya gak nyesel saat memutuskan untuk mengeluarkan setengah juta untuk botol minyak sebanyak 15 ml ini.

review yleo digize & stress away

Tiba-tiba saya nemu seller YLEO yang menjual versi 5 ml nya, harganya 250rb. Saya pikir, ya sudahlah. Namanya juga ikhtiar, dicoba aja dulu. Saat paket digize ini sampai di rumah, secepat itu langsung saya buka. Sejujurnya saya penasaran untuk mencium aromanya. Dan ternyata, setelah saya cium... astagaaa... nyengat banget! Saya gak bisa deskripsiin aroma dengan baik, tapi kalau dipaksa untuk menjelaskan, saya pikir aroma rempahnya sangat kuat, seperti wangi jahe, sereh, dan aroma-aroma asing lainnya, yang saat itu masih sulit diterima oleh hidung saya. 5x pemakaian di awal, saya selalu tahan napas saat pakai EO ini, gak tahan sama baunya.

Cara menggunakan YLEO ini macam-macam, bisa dimasukkan ke diffuser dan kita hirup aromanya, atau langsung dioles ke bagian tubuh yang dirasa sakit, bahkan bisa juga diminum dengan cara mencampurkan 2 tetes digize ke dalam air minum. Mengingat saya belum terbiasa dengan baunya yang aneh ini, cara kedua adalah yang menurut saya paling mudah. Tinggal dioles ke bagian ulu hati, tempat asam lambung naik.

Source : drjockers.com
Awalnya saya penasaran, gimana caranya sesuatu yang dihirup atau dioles bisa menyembuhkan penyakit begitu saja? Kalau diminum ya saya paham, sebagian besar obat yang saya konsumsi ya diminum. Tapi kalau dihirup? Cara kerjanya gimana sih?

Nah, setelah saya mencari banyak informasi, ternyata saat EO dihirup, saraf-saraf  kecil yang ada di dalam organ tersebut mengirim sinyal ke otak, menstimulasi sistem limbik, yaitu bagian otak yang mengontrol emosi, perilaku dan unconscious physiological function seperti bernapas, detak jantung, dan tekanan darah. Menurut pakar-pakar EO terdahulu, menghirup adalah cara kerja paling ampuh untuk memunculkan manfaat EO. Beda lagi jika kita menggunakannya dengan cara dioles. Saat dioles, kulit kita akan menyerap komponen-komponen tersebut dan meneruskannya ke aliran darah lewat pori-pori kulit.

Efek jangka pendek dari penggunaan YLEO Digize ini kurang lebih mirip seperti saat saya menggunakan kayu putih. Ada sensasi mint (dingin dan hangat yang bersamaan), dan meredakan rasa sakit seketika. Bedanya. sensasi mint Digize lebih strong dan lebih tahan lama dibandingkan dengan kayu putih. Padahal saya hanya menggunakannya 1-2 tetes saja.

review yleo digize & stress away

Tampaknya ini sudah tahun kedua saya menggunakan YLEO Digize. Suprisingly, saya merasakan banyak manfaat dari penggunaan EO ini.  Maag saya memang masih sering kambuh, tapi sekarang lebih mudah untuk dikontrol. Biasanya kalau kambuh pun, itu karena memang saya yang bandel. Tapi, selama saya gak macam-macam, lambung saya aman-aman saja.

Selain itu, saya merasa sudah bisa beradaptasi dengan aroma si Digize. Kalau dulu, saya mesti tahan napas tiap memakainya, kalau sekarang mencium aromanya malah membuat saya lebih tenang dan rileks. Kata teman saya sih, kalau aromanya mulai dirasa menanangkan, itu tandanya saya sudah mulai sembuh.

Setelah menggunakan YLEO Digize ini, saya jadi gak skeptis lagi. Saya gak merasa aneh lagi dengan hype nya produk EO. Gak merasa rugi harus bayar mahal untuk botol-botol kecil ini. Jika dibandingkan saya yang bolak balik ke dokter spesialis penyakit dalam, beli EO ini ya jauh lebih murah.


review yleo digize & stress away

Gak lama setelah itu, sahabat saya kirim paket ke rumah yang isinya YLEO Stress Away. Sesama pejuang maag, dia juga tau betul kalau stress bisa jadi penyebab utamanya. Beda dengan Digize, Stress Away ini wanginya lebih layak dihirup. Saya biasa menggunakan diffuser untuk menghirup aromanya. Betul saja, aromanya memberikan efek rileks dan tenang, apalagi kalau sambil dengar lagu-lagu klasik. Wiiih.. berasa lagi ada di taman yang banyak bunga dan kupu-kupunya gitu. *Sakarepmu, Nis!*

Akhirnya, duo combo YLEO Digize dan Stress Away ini sekarang menjadi penyelamat lambung saya. Kelak saya punya anak, mudah-mudahan Tuhan kasih saya rezeki yang cukup untuk beli YLEO sepaket. Mari bantu aminkan, buibu. Aamiin...

Wisata Lembang : Farmhouse, Berkunjung ke Rumah Hobbit

Waktu di Lembang kemarin, tadinya saya dan suami cuma ingin staycation aja. Menikmati Bandung yang dingin, mencoba merekam suasana di sana, untuk nanti dikenang setelah kami berdua kembali bercengkrama dengan panasnya Lampung. Tapi, tiba-tiba saya teringat dengan ejekan Ibu yang sering menyombongkan diri atas prestasinya dalam menjelajahi wisata-wisata kekinian di Lembang. Ya, itulah Ibu. Beliau dan teman pengajiannya memang senang sekali piknik dan mengambil foto di tempat-tempat wisata. Pulangnya, beliau selalu membagikan foto-fotonya ke grup Watsapp keluarga (tanpa tau apa maksud dan tujuannya), yang kadang bikin aplikasi Watsapp saya ngeheng. Gimana nggak, di 1 tempat, beliau bisa menghasilkan 200 lebih foto, sedangkan beliau bisa mendatangi 3 tempat di hari yang sama. RIP, my phone.

Bukan cuma karena Ibu yang sombong, tapi ada hal lain yang akhirnya memicu kami berdua untuk berwisata di tempat-tempat yang lagi hits di Lembang. "Biar kalau ditanya, bisa jawab."
Nasib hidup membuat kami berdua harus pindah-pindah tempat. Sekali kami datang di tempat yang baru, pertanyaan yang paling sering kami dapatkan adalah, "Di Bandung tempat yang lagi hits apa? Katanya banyak tempat-tempat keren ya di Lembang?"
Seringkali saya dan suami memberikan jawaban dangkal, "Ya gitu aja.. Kebanyakan kuliner sih kalau Bandung. Kalau tempat-tempat wisatanya, sama-sama aja lah..." Padahal, kami cuma gengsi buat jawab gak tau.

Jadi, akhirnya selama 3 hari kami di Lembang, saya dan suami mendatangi tempat-tempat wisata Lembang yang katanya ngehits, yaitu Farmhouse, Floating Market, Kebun Begonia, Maribaya Lodge, dan Fairy Garden. Sepengetahuan saya, yang tadi saya sebutkan masih sebagian dari wisata-wisata Lembang. Tapi, karena kami merasa sudah cukup puas, bahkan terlalu puas, dengan tempat-tempat yang tadi saya sebutkan, jadi untuk tempat-tempat lainnya mungkin akan kami kunjungi di lain waktu.

Tempat pertama yang ingin saya bahas adalah Farmhouse.
__________________________________________
INFORMASI TEMPAT 

Nama Tempat : Farmhouse Susu Lembang
Alamat : Jl. Raya Lembang No.108, Gudangkahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391
Jam Operasional : 08.00 AM - 07.00 PM 
Telepon: (022) 82782400
HTM : IDR 25.000 / orang (termasuk voucher minum susu) 


Farmhouse ini disebut-sebut sebagai tempat wisata yang instagramable, dan sesampainya di sana, saya langsung setuju! Bagian dalam Farmhouse ini dipeta-petakan dengan tema yang berbeda. Dari mulai tema bangunan Eropa, pagar gembok cinta, area binatang-binatang jinak, dan yang paling ngehits di antara semuanya yaitu rumah hobbit.

Tempatnya luas dan gak monoton. Mengingat namanya, Farmhouse, awalnya saya pikir konsepnya ya Farm House, rumah pertanian gitu. Ada tanaman, pemandangan, binatang, dan kita bisa kasih makan binatangnya, gitu doang. Tapi saya bersyukur karena ternyata Farmhouse ini di atas ekspektasi saya. Karena memang Farmhouse ini terkenal dengan spot-spotnya yang instagramable, maka di sini saya akan coba ceritakan tiap spot yang saya datangi.
1. Jalanan Eropa

Jalanan Eropa Farmhouse Lembang

Berjalan di sini rasanya seperti jalan di dalam telenovela. Ada gerobak-gerobak bunga, coffee shop, toko kue dengan warna-warna yang mencolok, bahkan penjual souvenir di pinggir-pinggir jalannyapun dikonsep ala Eropa. Oh ya, saya lupa bilang, kalau di Farmhouse, kita bisa menyewa kostum yang disediakan, contohnya yang disediakan khusus di spot ini, yaitu kostum Holland. Ini gemas banget, cuma saya gak kepikiran untuk pakai. Harga sewanya IDR 75.000 / 2 jam.

2. Jembatan Cinta/ Gembok Cinta

gembok cinta farm house

Tempat dengan konsep ini udah banyak banget ya sebenarnya, udah gak aneh, tapi selalu mencuri perhatian orang-orang. Ratusan atau bahkan ribuan gembok warna-warni bertuliskan inisial pasangan, tergantung di pagar jembatan. Kalau misalkan kamu tertarik untuk menggantungkan gembok dengan inisialmu dan pasangan, kamu bisa beli gemboknya di sini seharga IDR 25.000 saja.

3. Area Binatang Jinak

Mini Zoo Farmhouse Lembang

Nah, ini biasanya jadi spot favorit anak-anak. Layaknya kebun binatang mini, di sini ada beberapa kandang binatang-binatang jinak yang bisa didekati, diberi makan, dan difoto bareng. Dari mulai kelinci, sugar glider, ayam, bebek, dan domba (saya gak tau pasti jenis dombanya apa, tapi gembul banget so kyut!). Kemarin saya hanya sempat melihat kandang domba dan kelinci, dan gak lupa beli pakannya di crew Farmhousenya. Ya, mereka menyediakan wortel yang dihargai IDR 10.000 untuk seikat wortel, yaa cukuplah untuk ngasih makan 4 domba..

4. My Secret / Rumah Hobbit
 
Saya bisa bilang kalau area My Secret ini adalah bintang utama dari Farmhouse. Begitu saya masuk ke dalamnya, saya gak heran kalau untuk masuk ke area My Secret ini, harus merogoh kocek IDR 20.000 / orang. Area ini cukup luas. Lalu, karena untuk masuk area ini harus bayar, jadi di sini gak terlalu banyak orang. Menguntungkan buat kamu-kamu yang senang ambil foto berbagai pose karena gak akan terganggu oleh orang-orang yang lewat. Selain bisa foto di depan rumah hobbit, di area My Secret juga ada lorong yang (mungkin) ceritanya adalah isi rumah hobbit.

rumah hobbit farmhouse lembang

Masuk ke lorong ini rasanya seperti masuk ke dalam film... Hobbit (plis deh, Nis!). Tapi serius, suasananya tuh berasa beda aja, apalagi karena saya ke sini saat weekday, jadi waktu itu area ini sepi banget. Di sini banyak banget properti yang mendukung kesan rumah hobbit. Dari mulai furnitur klasik, buku-buku tua, botol-botol, ramuan-ramuan, jam kuno, banyak lah pokoknya! Tapi jangan salah, pihak Farmhouse betul-betul menjaga area ini, sehingga kita gak boleh menggunakan alas kaki selama di dalam lorong ini. Selain itu, beberapa barangpun ada yang ditandai/ dilarang untuk disentuh. 

rumah hobbit farmhouse lembang

Di ujung lorong ini, sebelum pintu keluar, ada ruangan yang dibuat seperti ruang makan untuk pesta. Kursinya banyak, dengan bunga-bunga yang menggantung. Ini adalah spot terakhir yang bisa kamu ambil. Lalu, sebelum kamu keluar, kamu akan mendapatkan 1 buah pie susu. Lumayan, untuk nyemil!

rumah hobbit farmhouse lembang

Udah gitu doang? Eits, tunggu dulu! Rumah hobbitnya belum selesai. Di sini kita juga bisa lihat rumah hobbit yang ada di atas pohon. Di sini, kalian bisa lebih banyak melihat pemandangan. Baik pemandangan ke dalam area rumah hobbit, ataupun pemandangan alam. Saking gemes sama tempat-tempatnya, saya malah kadang suka lupa buat foto-foto. 

rumah hobbit farmhouse lembang

Selain 4 spot utama tadi, di Farmhouse ini banyak banget toko oleh-olehnya. Bahkan di setiap area kayaknya ada. Belum lagi toko-toko kecil yang ada di pinggiran jalannya. Harga souvenirnya pun variatif. Mulai dari IDR 10.000, sampai sejutaan. Yang saya suka, di toko souvenir ini mereka menyediakan tempat untuk charge handphone.

rumah hobbit farmhouse lembang

rumah hobbit farmhouse lembang

Secara keseluruhan, Farmhouse ini bisa dibilang sangat terawat. Sepanjang jalan, tanaman hijau dan bunga warna-warni bermekaran. Jadi, kalaupun cuma foto di pinggir jalan, tetap lucu-lucu aja. Bahkan saya beberapa kali bisa foto kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga. So pretty!

farmhouse lembang