Meninggalkan Jejak Hidup dengan Menulis

by - October 27, 2018


Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional (yeayy!), Bandung Hijab Blogger kembali mengadakan kolaborasi yang mengangkat tema "Why I Started Blogging". Tema ini sudah lama saya rencanakan, tapi memang kalau belum ada pemicunya, Anisa ini kadang suka sedikit mager dan makir (malas mikir). Jadi begini ceritanya...


"Kamu nulis? Kamu pasti suka baca ya?"
Komentar semacam itu sering saya dapatkan, padahal waktu itu saya nulis hanya sesekali saja, membunuh waktu. Tapi betul kalau dibilang saya suka baca, dan memang dari situlah minat menulis saya muncul. Saya bersyukur karena mewarisi gen membaca dari Bapak. Ibu sering bilang kalau saya mirip banget dengan Bapak, kerjaannya baca buku mulu. Berkali-kali beliau nyeletuk, "Baca buku terus emang gak pusing?", atau sekarang setelah menikah,"Suamimu gak gimana-gimana kamu kerjaannya baca buku terus?"

Walaupun Ibu gak terlalu suka baca, tapi salah satu keahliannya yang selalu saya kagumi adalah puisinya. Beliau senang menulis puisi. Banyak puisinya yang ditulis di belakang foto-foto lamanya, yang sekarang sudah beliau hapus pakai tipe-x, gak tau kenapa.

Keahlian ibu membuat puisi sama sekali gak turun ke saya, padahal kalau iya, kan keren. Sekali-sekali saya bikin puisi hanya sebatas tugas sekolah. Selalu tentang pemandangan alam, karena menurut saya itu yang termudah, dan sering dicontohkan di buku pelajaran. Pohon bergoyang, angin bertiup, matahari bersinar, yang gitu-gitu lah. Saya gak punya ide lain, apalagi menulis tentang perasaan, awkward rasanya. Saking saya gak bisa bikin puisi, terakhir saya dapat tugas bikin puisi, saya akhirnya mengutip sebuah lagu.

"Berjalan di tepi pantai
tertiup angin berhembus
sejukkan hati, damaikan diri
Melihat biru"

Kalau kalian gak asing sama lagunya, kalian berarti sama tuanya dengan saya. Jebakan umur! Memalukan memang, kecil-kecil sudah plagiat. Sejak saat itulah saya yakin bahwa menulis puisi bukanlah sesuatu yang bikin saya senang, lain lagi dengan membacanya.

Dari kecil, saya senang menulis. Kebanyakan diary. Saya punya lebih dari 10 diary semasa hidup, yang beberapa di antaranya saya yakin sudah terjamah oleh kakak adik saya yang usil. Awal mulanya karena saya senang lihat design buku diary, jadi setiap saya lihat yang lucu, saya beli (tepatnya, minta dibeliin). Menulis diary menjadi hal yang menyenangkan buat saya, apalagi saat membaca lembar-lembar sebelumnya, membawa saya ke masa lalu. Sensasinya seru, geli, malu sendiri, dan berakhir pada penyelasan kenapa saya bisa nulis hal-hal semenggelikan itu. 

Seiring dengan hobi menulis diary, saya juga senang menulis cerpen. Jangan berharap cerpen saya dimuat di Bobo atau Percil, boro-boro. Kalau menulis puisi membuat saya selalu bercerita tentang pemandangan, menulis cerpen selalu membuat saya bercerita tentang berlibur ke rumah nenek. Entah dari mana template ini menempel di otak saya, sama halnya dengan gambar matahari yang diapit dua gunung lalu di bawahnya terhampar sawah dan laut, yang dipisahkan oleh jalan raya, ketika saya diminta untuk menggambar. Padahal rumah nenek saya jauh dari cerita yang saya bikin, gak ada sawah, sapi, kerbau. Hanya ada lapangan bola dan pasar minggu.

Walaupun gak punya bakat menulis, saya ingin belajar. Kenapa? Karena waktu kecil saya pernah ingin menjadi penyanyi dan penulis. Menjadi penulis tentu rasanya lebih masuk akal bagi saya. Seenggaknya saya juga peduli dengan orang lain, bahwa lebih mudah untuk tutup mata dari pada tutup telinga. Saya pernah minta diajarkan oleh teman saya yang jago nulis. Tapi dia bilang, minta diajarkan menulis sama seperti minta diajarkan menyetir mobil. Katanya, saya gak mungkin pandai nyetir mobil kalau gak nyetir. Begitupun halnya dengan menulis, kalau mau jago nulis, ya harus nulis.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membuat blog sebagai sarana saya menulis. Sebelum blog ini aktif, saya punya blog lain yang berisi curhatan saya, benar-benar diary versi digital. Alhamdulillah saya cepat sadar kalau itu terlalu vulgar dan langsung menghapusnya permanen. Setelah itu saya juga punya tumblr yang isinya agak mendingan. Tumblr juga jadi tempat saya untuk belajar Bahasa Inggris, jadinya kebanyakan artikel yang saya tulis dalam bentuk Bahasa Inggris. Jangan tanya Bahasa Inggrisnya benar atau gak, yang penting saya ngerti. Yang lain bodo amat. Tapi karena menulis Bahasa Inggris butuh usaha lebih, saya malah jadi malas-malasan dan gak produktif. Sampai akhirnya saya membuat blog baru dengan niche beauty, blog ini.



Tujuan awal saya bikin blog dengan niche beauty, bukan untuk sharing atau apalah itu. Saya hanya ingin menulis, tapi gak punya bahan. Alhasil karena kebetulan saya punya kulit wajah yang sering bermasalah, saya manfaatkan itu sebagai ide saya menulis. Akhirnya sampai sekarang saya menulis tentang hal-hal yang berbau kecantikan. Sempat merasa kesulitan karena saya yang cenderung cepat bosan dan ingin nulis banyak hal, merasa kurang leluasa saat menulis blog yang hanya terpatok dengan kecantikan saja. Padahal kan niat awal saya belajar menulis. Makanya, akhirnya saya memutuskan tidak hanya menulis tentang kecantikan, tapi juga tentang lifestyle, supaya gak mentok, dan punya banyak bahan untuk dipelajari dan ditulis.

Lambat laun saya menyadari hal baru, bahwa belajar menulis bukan satu-satunya tujuan saya. Beberapa keuntungan dan kesempatan tiba-tiba saya dapatkan dihobi saya ini. Tapi terlepas dari semuanya, saya rasa saya menikmati menulis, untuk meninggalkan jejak. Gak jauh beda dengan tulisan 'Lala & Rizki was here' di meja kayu cafe-cafe di Bandung. Bedanya, jejak saya digital, dan panjang. Jejak-jejak ini untuk mengingatkan saya di masa depan. Bahwa saya pernah belajar, bahwa saya punya banyak ketidaktahuan, bahwa saya pernah berpikir kalau BBF lebih oke dari Meteor Garden (which is totally wrong), bahwa saya pernah merasa kecil, dan bahwa ternyata memang penting untuk tetap selalu merasa kecil. Ya, saya rasa bagian terakhir adalah yang terpenting. Saya ingin tulisan saya sebagai pengingat, agar hati saya harus tetap di bumi, biarlah hanya pikiran yang melangit. Begitu kata Ayah Pidi.

Tentang keuntungan yang saya dapatkan, bukan semata-mata materi. Beberapa kali ada pembaca yang menghubungi saya melalui email dan instagram, untuk bertanya lebih lanjut seputar artikel yang saya tulis. Mulai dari situlah saya mendapatkan cinta yang lain dari hobi menulis ini. Saya baru merasa bahwa tujuan saya menulis bukan lagi hanya demi saya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Sebelumnya saya gak pernah nyangka kalau tulisan-tulisan ini ada yang baca, gak kepikiran sama sekali kalau tulisan saya bermanfaat, but suprisingly, it is. Jadi inilah akhirnya, tujuan akhir kenapa saya menulis dan akan tetap menulis. Mengingat apa yang Rosul bilang, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bukan begitu?

Teman sayapun seorang blogger, dan saya yakin cintanya pada kegiatan menulis sama besarnya dengan cinta saya. Tapi saya penasaran, apa yang membuat dia pertama kali ingin menulis blog. Kalian penasaran juga gak? Yuk kita intip tulisannya Teh Sukma Putri.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman menjadi manusia yang bermanfaat juga untuk saudara-saudara kita di Donggala, Palu. Media sudah mulai jarang memberitakan kondisi mereka, padahal mereka masih butuh bantuan kita. YUK, sekarang kalian tengok akun Instagram @actforhumanity dan klik link yang ada di bio nya untuk konfirmasi bantuanmu. Berapapun yang kalian sumbangkan, akan sangat membantu. Bahkan 10.000 yang kalian beri, cukup untuk memberi mereka 3 liter air minum. Mudah kan menjadi bermanfaat bagi orang lain?

You May Also Like

35 comments

  1. Iya ngeblog itu jejak digital kita ya, mengingat entah siapa yang akan bercerita ttg siapa kita karena orang beken bukan ya setidaknya kita menorehkan jejak kita sendiri 😁 semangat ...

    ReplyDelete
  2. Hmm masa sih gabisa bikin puisi. Perasaan suka ngegombal. Eh beda yah?? Pokoknya semangat terus ngeblognyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku tuh gak suka ngegombal. cuma ngegombal ke yang pantes digombalin aja, alias yang cantik. << ini termasuk gombal gak ya?

      Delete
  3. Bener banget, klo udah py baby agak susah baca santai hihi keep it up ya

    ReplyDelete
  4. "hidupku damai kan hatimu..." itu bukan sih terusannya? hahah lupa2 inget.
    Wah, ngalir banget tulisannya. aku sukaa. Ayoo lanjutkan

    ReplyDelete
  5. Menginspirasi teh tulisannya.... Baguss

    ReplyDelete
  6. seruu ih tulisannya.. aku sampe nyengir2 sendiri baca tulisan tteh 😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, padahal gak bermaksud ngelawak ih aku tuh.

      Delete
  7. sama, dulu saya juga kaya teteh...yang pnya diary digital. buru-buru saya apus menyadari betapa labilnya anak sma hahahahah

    ReplyDelete
  8. Judulnya mengalihkan duniaku teh :') gak cuma buku, blognya bisa jadi platform buat sejarah penulis ya.

    ReplyDelete
  9. majalaah Bobooo, dulu di rumah ada selemari udah pada disumbangn sekarang. Duh jadi nostalgia :)

    ReplyDelete
  10. setuju teh, sebaik baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, kalau aku malah suka banget sama puisi hhihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ditanya suka puisi apa nggak, aku juga suka bangeeeet bacanya. tapi bikinnya enggak. haha.

      Delete
  11. Salfok sama gbr 'How I Met Ur Mother', aq suka serial ini, dan menurut saya punya pengembangan cerita yang luar biasa, dr hanya sekedar cerita seorang Ayah bagaimana bertemu dengan Ibu mereka...

    Sama juga dengan menulis, sebuah ide kecil bisa di kembangkan menjadi berbagai tulisan...

    Keep menulis yaa 😘

    ReplyDelete
  12. Nis ditunggu loh konten tentang bullying nya lagi heheheh.

    ReplyDelete
  13. Aku juga punya buku diari yang kusimpan erat-erat. Kalau dibaca lagi maluuu.. haha

    ReplyDelete
  14. keren teh..semangat menulis, berkarya dan menginspirasi ya teh

    ReplyDelete
  15. tetap semangat ya ngeblognya :-)

    ReplyDelete
  16. Waah pengumpul diary juga nih kayak aku. Mungkin ada lebih dari 10 mah kalau dikumpulin hahaha

    Keep inspiring Anis, aku masih pengen baca banyak tutorial make up nya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha tunggu ya teh, aku lagi mengistirahhatkan wajah sejenak.

      Delete
  17. Sebaik baik kita adalah yg paling bermanfaat bagi sesama. Keeo inspiring teh 😘

    ReplyDelete
  18. Selamat hari blogger nasional teh, sebelumnya *tos* dulu yuk teh.
    Karena samaan sama aku, aku juga awalnya dari memulai nulis diary lalu migrasi ke blog. Karena pikirku, kalo cuman nulis di diary, mana ada manfaat yang bisa orang ambil. Jadi aku pinah deh ke blog, biar isi tulisanku bukan hanya curhat menye-menye, tapi kuharap ada isi dan manfaat yang bisa diambil. Kudah follow blognya btw...

    ReplyDelete
  19. Jadi menginspirasi aku buat semangatt nulis lg, nulisnya msh ngikutin mood akutu..

    ReplyDelete
  20. Ternyata banyak juga yaa, blogger yang dulu nya curhat di blog nya.. hehe. Semangat terus nge-blog nya teh, semoga terus menginspirasi

    ReplyDelete
  21. semangat terus teteh.. moga sukses 😘

    ReplyDelete
  22. Salam untuk ibundanya ya, keren banget bisa nulis puisi. Minimal nurun ke anak suka nulis diary. Hehehe. Wah sekarang udah ada diary virtual tempat berbagi. Keep sharing good things, Teh. Semangat selalu ngeblognya.

    ReplyDelete
  23. Iyah teh, aku jg pengen nulis gapunya bahan, akhirnya karena seneng makeup/beauty aku awali dgn nulis blog tentang itu hihi

    ReplyDelete
  24. Tantangannya kalau sudah punya bayi buat ngeblog itu sesuatu memang, semangat teh. Makasih sharingnya

    ReplyDelete
  25. Anak anak zaman dlu pasti hoby curhat di diary. Hahah aku pun anak zaman dlu *lah

    ReplyDelete
  26. aduh majalah bobo, percil hihi dulu mah sering banget beli majalah ini

    ReplyDelete
  27. Ah teteh selalu suka cara penyampaiannya 😚

    ReplyDelete