Membahas Sisi Gelap Teknologi Melalui TV Series Black Mirror

by - August 07, 2018

Entah kenapa belakangan aku banyak mencari referensi series barat. Setelah berkali-kali menonton How I Met Your Mother, Psych, House MD, Pretty Little Liars (karena file nya masih ada di hard disk, tampaknya butuh series baru untuk penyegaran. Alih-alih dapat series dengan cerita yang refreshing, Mas suami malah membawa series gelap berjudul Black Mirror ini.

See the source image
source: google.com
Black Mirror ini sebenarnya sudah muncul dari tahun 2011 yang sekarang sudah mencapai season 5 (on going). TV series yang dilahirkan oleh Charlie Brooker ini hanya berisi 3-4 episode di tiap seasonnya. Tiap episode memiliki cerita dan diperankan oleh tokoh yang berbeda.

Seperti judulnya, Black Mirror hadir membawa tema gelap dan satire tentang manusia modern dan kecanggihan teknologi masa kini, layaknya kaca hitam yang berada di layar gadget kita. Stephen King, The Master of Horror ini pun sempat berkicau tentang betapa ia tertarik dengan Black Mirror, yang kemudian ditanggapi oleh Charlie Brooker.

source: google.com
Aku terkesan dengan ide Black Mirror yang gak cuma bercerita tentang cerahnya dan majunya kehidupan modern di masa mendatang, tapi justru sebaliknya. Dampak-dampak yang menurutku sangat mungkin bisa terjadi di kehidupan mendatang. Bahkan beberapa episode,secara tidak sadar, sudah mulai terjadi di masyarakat kita. Contohnya episode "Nosedive" di season 3. 

Episode ini bercerita tentang suatu keadaan di mana setiap orang memiliki rating/angka. Iya, persis seperti kita memberikan nilai terhadap aplikasi-aplikasi di Playstore, tapi dalam skala yang lebih besar lagi. Semua orang membawa handphone dan memberikan penilaian langsung terhadap orang menggunakan handphonenya, secepat itu.


source: google.com
source: google.com
Kualitas tiap orang dilihat dari besaran ratingnya, termasuk Lacie, seorang cewek yang saat itu memiliki rating 4.2. Ia sedang berusaha untuk meningkatkan ratingnya menjadi 4.5, tapi di sini, hal itu tidak mudah. 

See the source image
source: google.com
Bagaimana cara mendapatkan rating yang tinggi? Lacie harus menjadi seseorang yang menyenangkan dan dicintai oleh orang sekitarnya, harus memiliki karakter yang menyenangkan, kehidupan yang menonjol, agar orang lain memberikan nilai tinggi terhadapnya. Dan kalau mau lebih efektif, Lacie harus bergaul dengan orang-orang yang memiliki lingkaran sosial lebih besar dengan rating yang juga lebih tinggi. Kebayang kan seperti apa dampaknya? Ya, everyone is faking around, include her. She'll do anything for the sake of her number. Dan dia juga sadar, orang lain pun seperti itu. Terkadang ia sengaja memberikan nilai tinggi kepada orang lain hanya agar orang lain membalasnya dengan nilai yang sama.

source: google.com
source: google.com
Kenapa sih mesti capek-capek ratingnya tinggi? Karena rating ini menunjukkan seberapa bernilai diri mereka. Di samping itu, dengan rating yang tinggi, mereka akan memiliki kemudahan dalam mengakses fasilitas-fasilitas umum. Beberapa fasilitas umum diprioritaskan terhadap orang-orang yang memiliki rating tinggi, sehingga semuanya serba mudah, layaknya VIP. Pelayanan khusus lainnya, seperti diskon barang dan properti pun tersedia bagi orang-orang yang memiliki rating di atas 4.5. Yang ratingnya jelek? Perlakuan orang lain menjadi buruk, bahkan saat Lacie terpuruk di rating yang rendah, ia tidak boleh menggunakan pesawat dan diusir dari bandara. 

Keterpurukan Lacie berawal dari niatannya yang ingin mencapai rating 4.5 karena ia ingin membeli rumah dengan harga khusus yang hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang memiliki rating 4.5 ke atas. Long story short, akhirnya dia memutuskan untuk berteman kembali dengan teman masa kecilnya, Naomi yang memiliki rating 4.8. Ia berniat untuk memperluas lingkaran sosialnya dengan orang-orang ber rating tinggi, dengan maksud meningkatkan ratingnya sendiri.
See the source image
source: google.com
Menurutku episode ini memberikan kritikan tajam terhadap dunia social media, di mana kita selalu mencoba menunjukkan seberapa bahagia kita. Bagaimana masyarakat kita sangat tergila-gila dengan "pujian/like/love" atau "nilai" yang diberikan orang lain. Kita takut untuk jujur, karena takut tidak diterima orang lain. Menarik kan?

Episode ini termasuk episode yang ringan jika dibanding dengan episode-episode lain, yang mana aku perlu googling untuk cari penjelasannya. Masing-masing episode memiliki plot yang menarik, namun tetap memiliki tema yang sama.

Aku ingat pertama kalinya aku selesai menonton Black Mirror season 1 episode 1, aku speechless. Begitupun suamiku. Kok tiba-tiba merinding, ngerasa suram, padahal bukan film horror. Setelahnya kita sepakat untuk hanya menonton 1 episode saja kala itu. Nah, beberapa hari kemudian, aku sempat blog walking pengalaman orang-orang yang nonton black mirror ini. Ternyata gak cuma aku, mostly orang-orang yang nonton Black Mirror merasakan hal yang sama.

Aku juga sempat baca artikel yang dimuat di dailyherald.com, judulnya "You Should be Watching Black Mirror -- but Don't Binge It". Ya, menurutku pun lebih baik tidak menonton series ini secara maraton. Alasannya?

1. "It's So Dark"
Seperti yang tadi kubilang. Pengalaman pertama aku nonton aku merasa suram, depresi. Selesai aku nonton episode pertama, aku diam dan banyak menghela nafas.

2. "It Takes Time to Appreciate"
Selalu ada ide cerdas yang terselubung di setiap episode. Aku biasanya googling tentang persepsi orang di episode yang baru saja kutonton. Selain untuk menyamakan persepsi, aku banyak menemukan fakta dan ilmu lain yang sebelumnya tidak kusadari. Biasanya banyak membaca review dari orang-orang, akan banyak "oooh" dariku.

3. "There's No Reason To"
Karena tiap episodenya tidak saling berkaitan, buat apa buru-buru? Ini bukan series Korea yang bikin penasaran kalau gak nonton sekaligus maraton. Enjoy aja!

4. "It's Not About Destination" 
Di kebanyakan series, biasanya kita tidak sabar menunggu bagian di mana sebuah misteri terungkap, atau istilahnya menanti sebuah jawaban (cie). Tapi di black mirror kita hanya perlu mengikuti alurnya, karena Black Mirror tidak begitu saja memberikan jawaban, tapi kita sendiri lah yang mencari jawabannya.

Selain episode Nosedive tadi, masih banyak episode yang kusuka, malah mungkin semuanya! Ada beberapa episode yang ringan dicerna seperti episode Nosedive ini, tapi juga beberapa episode membuatku berpikir kalau tampaknya aku butuh teman untuk diskusi tentang Black Mirror ini. Makanya, aku merekomendasikan series ini ke beberapa temanku, agar aku punya teman untuk diskusi.

Betul kalau Stephen King bilang series ini mengingatkannya dengan The Twilight Zone, karena akupun merasa begitu, but in a good way ya! Kalian ada yang nonton Black Mirror juga? Episode mana yang kalian suka?

You May Also Like

0 comments